Arahkan saja ke luar Jawa, seperti Bandung-Medan atau ke Malaysia," ungkap Djoko saat dihubungi pada Selasa (2/6/2026).

Keterbatasan Teknis dan Landasan Pacu

Meskipun mendukung reaktivasi, Djoko mengingatkan adanya keterbatasan fisik yang dimiliki oleh Bandara Husein Sastranegara. Lokasinya yang dikelilingi kawasan perkotaan yang padat membuat pengembangan infrastruktur menjadi sangat terbatas.

Salah satu kendala utamanya adalah panjang landasan pacu atau runway yang sudah tidak mungkin ditambah lagi.

Hal ini menjadi faktor penentu jenis pesawat yang bisa mendarat di sana dalam jangka panjang.

"Perlu dicatat bahwa runway di Bandung tidak bisa diperpanjang lagi karena lokasinya sudah mentok di angka 2.600 meter," kata Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) tersebut.

Ia menegaskan bahwa reaktivasi ini tidak boleh menjadi penghalang bagi kemajuan Bandara Kertajati.

>>> Wuling Eksion Laris Manis, Pemesanan Tembus 1.500 Unit per Juni 2026

Pemerintah tetap harus konsisten mendorong perpindahan operasional penerbangan ke Majalengka secara bertahap sesuai rencana induk sebelumnya.

Kondisi Fasilitas dan Perbaikan Aksesibilitas

Dari sisi infrastruktur pangkalan, fasilitas di Bandara Husein Sastranegara diklaim masih dalam kondisi yang layak.

Hal ini disampaikan oleh Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (LANUD) Husein Sastranegara, Irman Fathurrahman.

Irman menjelaskan bahwa secara umum tidak ada kendala berarti pada fasilitas bandara itu sendiri.

Namun, ia menekankan pentingnya perbaikan pada akses jalan dan tata kota di sekitar area bandara agar lebih memadai.

Fokus perbaikan infrastruktur pendukung yang dibutuhkan:

  • Perbaikan kualitas aspal dan drainase pada jalan utama menuju pangkalan udara.
  • Optimalisasi akses kendaraan dari Gerbang Tol Pasteur menuju kawasan bandara.
  • Penataan lalu lintas di sekitar pintu masuk untuk mencegah kemacetan saat jam operasional penerbangan.