Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran terhadap tingkat inflasi global yang tetap tinggi.

Akibatnya, muncul spekulasi bahwa bank sentral di berbagai negara akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama.

Berikut adalah ringkasan data ekonomi terbaru yang memengaruhi psikologi pasar:

  • Inflasi Mei 2026 (yoy): 3,08% – dinilai sebagai salah satu sentimen buruk bagi pasar.
  • Neraca Perdagangan April 2026: surplus US$89,1 juta – menurun drastis dibandingkan surplus Maret sebesar US$3,32 miliar.
  • Jumlah Saham Terkoreksi: 714 saham – menunjukkan pelemahan yang terjadi secara menyeluruh.

Data di atas menggambarkan penurunan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Penyempitan surplus neraca perdagangan menjadi alarm bagi para investor mengenai kondisi daya beli masyarakat.

Arus Keluar Modal Asing

Ibrahim juga menggarisbawahi bahwa kombinasi sentimen negatif ini memicu aksi jual oleh investor asing. Arus modal keluar (capital outflow) kembali terjadi dan menekan kinerja bursa domestik secara keseluruhan.

Kepergian investor asing dari pasar saham Indonesia membuat indeks sulit untuk bertahan di zona hijau.

Padahal, pada awal pembukaan pagi tadi, IHSG sempat bergerak menguat dan menyentuh level tertinggi di 6.213.

Sepanjang sesi pertama, nilai transaksi tercatat mencapai Rp14,89 triliun dengan volume perdagangan 26,37 miliar saham.

Aktivitas pasar yang sangat tinggi ini menunjukkan besarnya tekanan jual yang terjadi di lantai bursa.

Para analis menyarankan investor untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan nilai tukar rupiah serta kebijakan suku bunga global.

>>> Update CS2 Terbaru: Animgraph 2 Beta Resmi Hadir, Gameplay Makin Mulus dan Responsif

Volatilitas tinggi diperkirakan masih akan membayangi IHSG dalam beberapa waktu ke depan.