Djoko menambahkan, masih ada 34 sumur eksplorasi lain yang akan dibor. Ia berharap temuan baru gas dan minyak mentah dalam jumlah besar akan terus dihasilkan.

Fokus pengeboran juga menyasar area Bobara yang dikelola Petronas, Total, dan Pertamina. Targetnya adalah menemukan cadangan minyak skala besar.

Realisasi Lifting Minyak Nasional 2026

Berbeda dengan sektor gas, capaian lifting minyak masih di bawah target. Hingga 31 Mei 2026, realisasi lifting minyak mencapai 576,2 ribu barel per hari (BOPD).

Rincian lifting terdiri dari produksi minyak mentah 491,3 ribu BOPD, kondensat 55,8 ribu BOPD, dan natural gas liquid (NGL) 29,1 ribu BOPD.

Target APBN 2026 untuk lifting minyak adalah 610 ribu BOPD.

Djoko mengakui hasil tersebut masih di bawah target. Namun, SKK Migas optimistis dapat mengejar ketertinggalan hingga akhir tahun.

Kendala Operasional di Awal Tahun

Rendahnya lifting minyak dipengaruhi gangguan teknis di awal tahun. Pada Januari 2026, produksi merosot tajam akibat kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI).

Gangguan ini memengaruhi operasional 7 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Terminal Dumai serta dua pemasok gas utama, yaitu Medco E&P Grissik Ltd dan PetroChina Jabung.

Setelah teratasi, muncul masalah kelistrikan di Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan penurunan produksi alami di Blok Banyuurip.

>>> Momen Mocca di Stage Bus Java Jazz Festival 2026 yang Paling Dicari Penonton

SKK Migas dan para KKKS terus melakukan optimalisasi sumur dan perbaikan fasilitas produksi. Langkah ini diambil agar target tahunan tetap tercapai meskipun banyak hambatan teknis.