ICCC memaparkan bahwa senyawa N-nitroso terbentuk dari reaksi antara amina pada ikan dengan nitrat atau nitrit dari garam pengawet.

>>> 4 Buah Ampuh Cegah Kanker Payudara Menurut Ahli Onkologi

Proses ini juga diduga terkait dengan aktivasi virus Epstein-Barr (EBV), yang erat hubungannya dengan kanker nasofaring.

Dr. Achmad membenarkan bahwa paparan virus Epstein-Barr merupakan salah satu faktor pemicu utama.

Virus ini sangat umum di Asia, dengan sekitar 80% orang dewasa pernah terpapar dalam kadar rendah.

Karena virus sangat umum, langkah pencegahan yang paling masuk akal adalah mengendalikan gaya hidup dan faktor lingkungan.

Faktor genetika juga berperan dalam kerentanan, namun kanker nasofaring bukan penyakit yang diwariskan langsung.

Kesamaan gen dalam keluarga hanya menciptakan potensi, bukan kepastian terkena kanker.

Gejala yang Harus Diwaspadai

ICCC menghimbau masyarakat waspada terhadap gejala awal kanker nasofaring. Deteksi dini penting agar penanganan medis dapat dilakukan secepat mungkin.

Gejala umum meliputi benjolan di leher, hidung tersumbat atau mimisan berulang, gangguan pendengaran seperti telinga berdenging atau nyeri, serta sakit kepala hingga kesulitan bernapas atau berbicara.

Jika merasakan keluhan tersebut, segera konsultasi dengan dokter untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Secara global, kanker nasofaring mendominasi kasus di bidang THT-KL. Dr. Achmad mencatat sekitar 60-70% dari total kasus kanker kepala dan leher adalah kanker nasofaring.

Data menunjukkan angka kejadian di Indonesia sekitar 6,2 kasus per 100.000 penduduk. Faktor pemicu utama meliputi nitrosamin, virus Epstein-Barr, dan genetika.

>>> Menkes Soroti Harga Obat di RI, Bisa 6 Kali Lipat Lebih Mahal dari Pasaran

Membatasi konsumsi makanan olahan garam tinggi adalah langkah awal yang bijak untuk menjaga kesehatan tenggorokan dan hidung dalam jangka panjang.