Tekanan ekonomi yang meningkat dan ketidakpastian pasar kerja memaksa generasi muda untuk merombak strategi keuangan mereka.

Biaya hidup yang terus melonjak membuat pengelolaan keuangan tidak lagi bisa dilakukan dengan cara konvensional.

>>> Prudential Ungkap Dampak Volatilitas Pasar pada Unitlink Saham 2026

Berdasarkan laporan The Deloitte 2023 Gen Z and Millennial Survey, tingkat stres dan burnout di kalangan Gen Z dan milenial sangat tinggi.

Hal ini mendorong mereka menjadi lebih pragmatis dalam mencari solusi finansial.

Generasi ini mulai mendiversifikasi sumber penghasilan, memperkuat dana darurat, hingga memaksimalkan platform perbankan digital dan investasi.

Berikut strategi utama yang diterapkan anak muda di Indonesia untuk menjaga ketahanan finansial.

Pekerjaan Sampingan sebagai Penopang Ekonomi

Ketergantungan pada satu sumber gaji kini dianggap tidak mencukupi.

Berdasarkan data LPEM FEB UI per Agustus 2024, sekitar 19,3 juta pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan tambahan.

Kesenjangan upah menjadi alasan utama, di mana upah minimum di 32 dari 38 provinsi masih di bawah standar Kebutuhan Hidup Layak.

Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Jawa Barat memiliki selisih kebutuhan yang lebar.

Sebanyak 11,5 juta orang dengan pekerjaan sampingan berdomisili di perkotaan. Tekanan biaya hidup di kota besar menjadi pemicu utama mencari pendapatan ekstra.

Anak muda cenderung memilih pekerjaan sampingan fleksibel berbasis teknologi. Peluang ekonomi digital memungkinkan pendapatan dalam mata uang asing seperti dolar AS.

Pemanfaatan teknologi seperti menjadi pekerja lepas di bidang desain, penyuntingan video, afiliasi produk, hingga berjualan daring kini menjadi keterampilan bertahan hidup yang krusial.

Kemampuan mengelola portofolio ini membantu menghadapi fluktuasi ekonomi.

Investasi dan Tabungan sebagai Sabuk Pengaman