Aturan ini selaras dengan regulasi induk organisasi panahan nasional demi memperluas jangkauan peserta.

>>> Jaume Masia Juara Race 2 WorldSSP Aragon 2026, Aldi Satya Mahendra Posisi Lima

“Pada seri ini kami telah melakukan penyesuaian dengan peraturan PB Perpani, yakni menggunakan kategori umur ‘Under’ sehingga lebih banyak atlet usia dini yang berpartisipasi.

Harapannya agar semakin menumbuhkan kecintaan siswa pada olahraga panahan yang nantinya akan memperkuat keberlangsungan ekosistem olahraga panahan,” ujar Vera.

Langkah penyesuaian aturan ini diharapkan mampu menyokong ketersediaan stok atlet nasional secara berkelanjutan. Hal ini melalui iklim kompetisi yang sehat.

“Dengan demikian, ke depan tercipta regenerasi atlet panahan yang berkualitas dan mampu berkontribusi bagi prestasi Indonesia, karena ditempa dengan turnamen yang kompetitif seperti MilkLife Archery Challenge sejak dini,” lanjut Vera.

Persaingan Ketat di Arena

Ketatnya persaingan langsung terlihat di arena pertandingan.

Salah satunya pada kategori PVC U-13 Putra yang mempertemukan Ahmad Umar Al Fatih dari MIM Al Tanbih melawan Muhammad Rajib Mahasin dari MIN Kudus.

Fatih sukses merebut kemenangan dengan set poin 7-1 (118-109). Ia mengaku bahwa ketenangan menjadi kunci utama menghadapi rival-rivalnya yang tangguh.

“Tahun ini lawannya luar biasa, semua pemainnya andal dan tepat sasaran. Namun, di final saya tetap tenang dan membidik dengan kesabaran.

Saya ingin terus jadi juara, jadi latihan teknik dan mental itu perlu,” kata Fatih.

Ketenangan serupa juga membawa Latisya Innara Surya Putri dari SD Negeri 7 Wonogiri meraih podium tertinggi pada kategori Nasional U-10 Putri.

Ia menerapkan instruksi dari pelatihnya.

“Tadi sebelum bertanding, pelatih berpesan agar saya bisa rileks, jadi itu yang membuat saya lebih fokus saat final tadi.