Di tengah gempuran teknologi digital dan kecerdasan buatan, tren zine atau majalah buatan tangan justru kembali populer di Jepang.

Para kreator meyakini bahwa aspek emosional dalam karya fisik tidak akan pernah bisa ditiru oleh AI.

>>> Sinopsis Film Backrooms: Teror Labirin Misterius Terbaru yang Paling Dinantikan 2026

Kazuma Obara dan Akihico Mori, dua seniman asal Kyoto, tengah sibuk mengamati hasil cetakan zine mereka di sebuah pabrik percetakan.

Mereka memanfaatkan mesin cetak milik surat kabar Kyoto Shimbun untuk mewujudkan karya fisik yang nyata.

Daya Tarik Karya Fisik

Menurut Akihico Mori, pembaca dapat merasakan semangat dan gairah pencipta saat memegang zine secara langsung.

Ia menegaskan bahwa AI tidak akan pernah bisa meniru sentuhan manusiawi yang tertuang dalam karya buatan tangan.

Kazuma Obara, seorang fotografer, juga merasakan keunikan media cetak. Ia menyebut bahwa kertas mampu melibatkan panca indera, berbeda dengan konten digital yang hanya terbatas pada layar.

Yoshihiko Okazaki dari Kyoto Shimbun Printing mengatakan bahwa layanan cetak mereka diminati lintas generasi, dari remaja hingga lansia berusia 70 tahun.

Ia terkejut melihat zine justru beresonansi dengan gaya hidup anak muda.

Dukungan Pasar dan Toko Buku

Tren zine juga merambah bisnis buku komersial. Toko buku Sanseido di Jimbocho, Tokyo, kini menyediakan ruang khusus untuk menjual zine.

Pihak toko melihat zine mampu menjaring segmen pembaca baru yang mencari konten personal dan otentik.

>>> Resmi! Daftar Skuad Jepang di Piala Dunia 2026: Rekor Fantastis Yuto Nagatomo

Masato Sugiura dari Sanseido menjelaskan bahwa setiap orang saat ini cenderung mencari sesuatu yang personal. Zine dengan topik spesifik dinilai lebih relevan dengan minat individu.