Kawasan Blok M di Jakarta Selatan kini menikmati masa kejayaan kembali. Transformasi signifikan mengubah area yang sebelumnya lesu menjadi pusat keramaian yang dipadati pengunjung.

Setiap akhir pekan, antrean di tempat kuliner mengular dan kafe-kafe dipenuhi generasi muda. Jalur pedestrian hampir tidak pernah sepi, menandakan daya tarik Blok M sebagai magnet aktivitas warga.

>>> Daftar Harga HP Terbaru Rilisan 2026: Banyak Dicari, Mulai Rp1 Jutaan

Blok M Sebagai Simpul Memori dan Transportasi

Menurut pengamat tata kota Yayat Supriatna, kebangkitan Blok M bukan fenomena kebetulan. Kawasan ini memiliki akar sejarah kuat sebagai titik pertemuan utama sejak puluhan tahun silam.

Yayat menggambarkan Blok M sebagai merek masa lalu yang bersinar kembali dengan citra kekinian. Sejak dulu, wilayah ini dirancang menjadi pusat mobilitas transportasi serta simpul perdagangan dan jasa.

Kenangan kolektif masyarakat membuat Blok M tetap di hati warga meski popularitasnya sempat merosot. Struktur kawasan yang mendukung aktivitas ekonomi dan pertemuan orang menjadikannya relevan.

Masa suram terasa ketika bus konvensional kehilangan pamor.

Fungsi Terminal Blok M sebagai pusat aktivitas perlahan memudar seiring berkurangnya peran Metro Mini, Kopaja, Mayasari Bakti, dan bus PPD.

Dahulu, hampir semua layanan transportasi menuju selatan Jakarta bermuara di Blok M. Perubahan sistem transportasi publik sempat membuat peran terminal bersejarah ini kehilangan taji.

Kondisi diperparah saat pandemi Covid-19 melanda, mengakibatkan aktivitas perdagangan menurun drastis. Perubahan perilaku masyarakat ke belanja daring juga menggerus eksistensi pusat belanja konvensional.

Yayat mencatat daya beli masyarakat yang berubah selama pandemi mempercepat keterpurukan. Tanpa keramaian perdagangan fisik, peran Blok M sebagai pusat keramaian hampir terlupakan.