Perayaan hari jadi ke-68 Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) seharusnya menjadi momen kegelisahan bagi komunitas intelektual yang memahami sejarah.

Bukan sekadar merayakan pencapaian atau memamerkan gelar akademis.

>>> Small Steps for Tomorrow 2026: BYD Salurkan Bantuan Pendidikan ke 12 Sekolah

Di tengah zaman yang rapuh akibat pragmatisme politik dan dangkalnya cara berpikir, usia hampir tujuh dekade ini merupakan tuntutan etis yang berat.

Kaum cendekiawan Katolik perlu melakukan pemeriksaan kesadaran mendalam mengenai peran mereka di masyarakat.

Pertanyaan besarnya adalah apakah para sarjana Katolik masih mampu menjadi garam yang melebur dan berdampak.

Ataukah mereka sudah lama menarik diri dan hidup nyaman di dalam menara gading yang jauh dari realitas sosial.

Integrasi Iman dan Nasionalisme

Semboyan utama organisasi ini, Pro Ecclesia et Patria, Pro Bono Publico, bukanlah sekadar kalimat kredo usang.

Slogan yang berarti "Untuk Gereja dan Tanah Air, Demi Kesejahteraan Umum" merupakan beban dialektis yang besar.

Dalam semboyan tersebut, komitmen iman dan semangat nasionalisme tidak bisa dipisahkan. Keduanya bermuara pada kesejahteraan bersama.

Iman Kristiani tidak pernah mengajarkan para sarjana untuk mematikan nalar dalam menghadapi persoalan duniawi. Sebagaimana ajaran Santo Thomas Aquinas, rahmat Tuhan tidak menghancurkan kodrat manusia, melainkan menyempurnakannya.

Iman harus menjadi cahaya yang mendorong rasio bergerak melampaui kepentingan pribadi. Tujuannya demi membela kepentingan publik secara luas.

Tanggung jawab moral ini diperkuat warisan pemikiran Mgr. Albertus Soegijapranata.

Beliau menegaskan bahwa menjadi warga Katolik Indonesia berarti berkomitmen penuh menjadi "100% Katolik dan 100% Indonesia".

Pada usia ke-68, kutipan tersebut perlu dibedah kembali dengan sudut pandang lebih tajam dan kontekstual. Jangan sampai ungkapan ini hanya menjadi jargon manis dalam pidato seremonial.