Dalam etika publik, tujuannya menjadi benteng moral dalam sistem kekuasaan. Gelar kesarjanaan menjadi tidak bernilai eksistensial jika hanya digunakan untuk kepentingan pribadi.

Ilmu pengetahuan seharusnya menjadi alat untuk menyejahterakan masyarakat. Bukan sekadar instrumen mobilitas sosial untuk meraih kemewahan.

Mengembalikan Marwah Intelektual

Kecerdasan seorang sarjana Katolik sedang diuji lewat kemampuannya mengatasi kemiskinan, isu lingkungan, dan degradasi demokrasi.

Jika ilmu yang dimiliki gagal membawa kebahagiaan bagi yang terpinggirkan, maka kecerdasan tersebut telah berubah menjadi kebebalan.

Merayakan usia ke-68 adalah waktu tepat untuk menguji kembali kesetiaan pada salib, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan universal.

Di hadapan Gereja dan Ibu Pertiwi, sudah saatnya mengakhiri retorika kosong yang tidak membuahkan hasil nyata.

Kini adalah momentum untuk mengembalikan marwah sarjana Katolik sebagai benteng moral sekaligus penggerak perubahan konkret. Kebahagiaan bersama harus menjadi kompas, sementara perjuangan kebangsaan adalah medan pengabdian yang sesungguhnya.

Selamat Dies Natalis ke-68 bagi seluruh anggota ISKA di mana pun berada.

>>> Beasiswa SCG 2026 Dibuka: Syarat dan Skema Khusus Anak Tukang Bangunan

Mari tetap menjaga sikap kritis, rasa gelisah terhadap ketidakadilan, dan terus memberikan pengabdian terbaik bagi Gereja dan Tanah Air.