Piutang sering muncul dalam laporan keuangan perusahaan dan percakapan finansial. Secara sederhana, piutang adalah klaim atau hak tagih perusahaan terhadap pihak lain akibat suatu transaksi.

Bayangkan Anda meminjamkan uang kepada teman. Dalam posisi ini, Anda memiliki piutang karena ada dana yang harus dikembalikan.

>>> Harga Emas Antam Terbaru Melonjak Tajam ke Rp2,774 Juta, Banyak Dicari Investor 2026

Menurut buku Akuntansi Keuangan Menengah Berbasis PSAK karya Dwi Martani dkk, hampir setiap entitas bisnis memiliki piutang kepada pihak luar.

Saldo ini umumnya berasal dari penjualan barang, jasa, atau aktivitas operasional lainnya.

Piutang memiliki karakteristik dan kategori berbeda tergantung asal transaksinya. Berikut tiga jenis piutang yang umum dalam akuntansi.

1. Piutang Dagang atau Piutang Usaha

Piutang dagang adalah tagihan perusahaan kepada pelanggan akibat penjualan barang secara kredit. Jenis ini biasanya tidak memerlukan surat perjanjian formal yang rumit.

Munculnya piutang dagang didasari kepercayaan dan kebijakan internal perusahaan. Sementara itu, istilah piutang usaha lebih sering dipakai perusahaan jasa.

Dalam piutang usaha, perusahaan telah memberikan layanan, namun pembayaran diterima di kemudian hari. Piutang ini terbagi menjadi piutang pihak berelasi dan pihak ketiga sesuai PSAK 7.

Ciri khas piutang dagang atau usaha meliputi: berasal dari penjualan kredit, umumnya tanpa bunga selama masa tenggang, jangka waktu pelunasan pendek, dan tanpa dokumen formal.

Karena jangka waktunya pendek, piutang dagang dikategorikan sebagai aset lancar. Perusahaan harus mengelola penagihan agar arus kas tetap terjaga.

2. Piutang Nondagang atau Piutang Lainnya

Piutang nondagang adalah tagihan kepada pihak ketiga yang bukan dari kegiatan utama penjualan barang atau jasa. Transaksi ini bersifat pelengkap.