Ada unsur lucu di sana. Orang membeli celana pendek karena nyaman, lalu sadar bahwa kenyamanan itu ternyata dipilih banyak orang lain. Yang tadinya terasa personal berubah menjadi komunal.

Jakarta Selatan memberi panggung yang cocok untuk gejala seperti ini. Kawasan itu lama menjadi tempat bertemunya kafe, lapangan olahraga, ruang kerja bersama, mal, dan trotoar yang penuh bahasa campuran. Busana pun ikut menjadi bagian dari percakapan.

Celana pendek Taka tidak harus dibaca sebagai mode besar. Ia lebih dekat dengan kebiasaan kecil kelas urban: ingin praktis, ingin enak dilihat, tapi tidak mau tampak terlalu niat.

Di titik itu, viralitasnya terasa masuk akal. Barang ini tidak menjanjikan perubahan hidup. Ia hanya menawarkan satu hal yang sering dicari orang kota: pakaian yang bisa dipakai tanpa banyak berpikir.

Masalahnya, ketika sebuah barang telanjur disebut “sejuta umat”, daya tarik dan risikonya datang bersama. Sebagian orang makin ingin membeli karena merasa ikut arus. Sebagian lain justru berhenti memakai karena takut terlihat sama dengan semua orang.

Begitulah nasib tren yang berhasil. Ia hidup karena ditiru, lalu pelan-pelan digugat karena terlalu banyak yang meniru.

Untuk sementara, celana pendek Taka masih berada di fase itu: cukup ramai untuk dibicarakan, cukup mudah ditemukan, dan cukup biasa untuk terus dipakai. Di antara kopi susu, raket padel, dan jalan sore di selatan Jakarta, ia menjadi penanda kecil bahwa gaya hidup urban kadang memang hanya dimulai dari sepotong celana pendek.