Di Jakarta Selatan, ada jenis pakaian yang kadang lebih cepat dikenali daripada wajah pemakainya: celana pendek. Belakangan, nama Taka ikut terseret dalam percakapan itu, muncul di unggahan media sosial, kolom komentar, dan etalase belanja daring.

Barangnya sederhana. Celana pendek berbahan ringan, warna-warna aman, potongan longgar, dan mudah dipakai untuk banyak urusan: nongkrong, padel, tenis, jalan ke Blok M, atau sekadar turun membeli kopi.

Beberapa unggahan menyebutnya sebagai “celana pendek sejuta umat” di Jakarta Selatan. Sebutan itu tentu bukan data resmi, tapi cukup menggambarkan bagaimana sebuah benda sehari-hari bisa berubah menjadi tanda kecil pergaulan.

Di marketplace, produk Taka Craft muncul dalam berbagai varian, antara lain Buggy Nylon Shorts Pro, Baker FlexTile Shorts, skorts, dan seri berbahan nylon lain. Harganya umumnya berada di kisaran ratusan ribu rupiah, dengan sejumlah produk populer yang tercatat terjual ribuan kali.

Yang membuatnya ramai bukan semata desain. Celana pendek seperti ini masuk pada celah yang pas: cukup rapi untuk keluar rumah, cukup santai untuk tidak terlihat berusaha keras, dan cukup murah dibandingkan banyak merek gaya hidup urban lain.

Di kota yang pakaian sering menjadi kode sosial, Taka bergerak sebagai semacam seragam tak resmi. Ia tidak perlu logo besar. Justru karena tampil biasa, ia mudah menyelinap ke banyak tubuh dan banyak suasana.

Fenomena ini memperlihatkan cara tren lokal bekerja hari-hari ini. Bukan selalu dimulai dari panggung mode, selebritas besar, atau kampanye mahal. Kadang ia lahir dari video pendek, candaan antarteman, dan perasaan ganjil ketika melihat barang yang sama dipakai orang berbeda di tempat yang sama.