"Kami membangun Pangkalan Bulan untuk semua yang akan kami pelajari, inovasi yang akan meningkatkan kehidupan di Bumi, inspirasi bagi generasi penjelajah berikutnya, dan untuk menguasai keterampilan yang dibutuhkan ke mana kami pasti akan pergi selanjutnya...

Mars," tulisnya.

Isaacman mengakhiri pernyataannya dengan menyebut dimulainya era baru penjelajahan luar angkasa. "Zaman Keemasan eksplorasi Bulan telah dimulai," tulisnya.

Di sisi lain, proyek ini menghadapi skeptisisme dari sejumlah pakar antariksa. Rekam jejak kemunduran teknologi dari beberapa mitra penunjang menjadi perhatian.

NASA juga menghadapi tekanan politik akibat pembengkakan anggaran Program Artemis. Kemajuan pesat China yang menargetkan pendaratan astronaut pada 2030 turut menjadi tantangan.

Ilmuwan Bulan dari The Open University, Simeon Barber, memberikan pandangannya kepada BBC News. "Sama sekali tidak mengejutkan bagi saya jika Tiongkok sampai di sana lebih dulu," kata Barber.

Menurut Barber, NASA saat ini berada dalam situasi politik yang mengharuskan mereka segera mengumumkan rencana kerja.

"Bagi saya, terdengar seperti [NASA] merasa berada dalam posisi di mana mereka harus mulai menyatakan mereka punya rencana.

Jadi saya pikir ada banyak dorongan politik di balik ini," ujarnya.

>>> Kurs Rupiah 28 Mei 2026 Melemah ke Rp17.860 per Dolar AS

Proyek infrastruktur semi-permanen ini dijadwalkan berlanjut ke Fase II pada rentang tahun 2029 hingga 2032.