Review Sekawan Limo 2 Gunung Klawih, Komedi Horor yang Makin Ramai dan Ambisius

Bayu Skak kembali membawa geng pendaki paling apes lewat Sekawan Limo 2: Gunung Klawih. Sekuel ini datang dengan skala cerita yang lebih besar dibanding film pertamanya. Bukan cuma soal gangguan makhluk halus, tetapi juga menyeret tema pesugihan, dunia demit, sampai trauma sosial yang dikaitkan dengan tragedi 1998.

Tiga tahun setelah kejadian di film sebelumnya, Bagas, Lenni, Juna, Andrew, dan Dicky akhirnya kembali berkumpul. Reuni itu awalnya terasa santai karena mereka hanya ingin merayakan ulang tahun anak Andrew.

Situasi berubah ketika keluarga Andrew disebut menjadi target tumbal dari kutukan pesugihan Gunung Klawih. Demi menyelamatkan sahabatnya, mereka memutuskan naik kembali ke gunung yang menyimpan banyak misteri tersebut.

Perjalanan itu cepat berubah kacau. Juna menghilang di tengah perjalanan, sementara teror demi teror mulai bermunculan. Dari sosok gaib sampai ritual aneh, semuanya membuat perjalanan lima sahabat itu makin berantakan.

>>> Daftar Rating Prime Time TV Nasional per Kamis, 28 Mei 2026 Masih Dikuasai Sinetron

Komedi Masih Jadi Kekuatan Utama

Meski dibungkus horor, film ini tetap berdiri di jalur komedi. Dialog khas Jawa Timuran, candaan absurd, dan interaksi antarkarakter masih jadi sumber hiburan terbesar sepanjang film.

Cak Kartolo dan Ning Tini tampil paling mencolok. Kehadiran mereka membuat suasana film terasa hidup, terutama ketika cerita mulai terlalu ramai dan nyaris kehilangan arah.

Humor khas Bayu Skak juga masih terasa akrab. Beberapa lelucon memang receh, tetapi cukup efektif menghidupkan suasana bioskop. Chemistry antarpemain menjadi alasan kenapa film ini tetap mudah dinikmati meski ceritanya bergerak cukup liar.