"Dengan dukungan AI, sistem ini diharapkan mampu memprediksi gangguan, mengatur distribusi energi, serta mengurangi risiko blackout secara lebih cepat dan efektif," terang Elaine.

Peluang Adopsi dari Australia

Penerapan teknologi serupa tercatat telah berhasil diimplementasikan di Australia. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi di Indonesia sangat berpeluang untuk direalisasikan.

"Namun, kolaborasi dengan para ahli menjadi kunci utama pengembangan teknologi tersebut. Saya harus bekerja sama dengan para expert atau profesional dalam bidang ini," imbuh Elaine.

Guna mendukung riset sektor energi ini, pemerintah disarankan untuk memperkuat kemitraan strategis. Kemitraan itu melibatkan institusi pendidikan tinggi dan peneliti daerah.

"Indonesia memiliki banyak profesor dan intelektual.

Dengan menjalin partnership bersama universitas dan pemerintah di berbagai kota, kita bisa menggabungkan data untuk menciptakan solusi yang nyata," ujarnya.

Pengembangan model AI dan pemanfaatan sistem sensor berbiaya rendah juga diharapkan dapat menjadi solusi aplikatif. Solusi ini diharapkan dapat diadopsi oleh negara-negara lain di dunia.

"Saya berharap riset ini, terutama model AI dan sistem sensor berbiaya rendah, bisa membantu bukan hanya negara kita tetapi juga negara lain di seluruh dunia.

Masalah utama selama ini adalah biaya AI dan sensor yang mahal. Dengan teknologi lebih terjangkau, saya berharap negara-negara saling terhubung dan bekerja sama lebih baik," tutup Elaine.

>>> Budaya Latihan Bersama Jadi Kunci Lahirnya Pembalap Motor Potensial di Yogyakarta

Jakarta Scholars Symposium 2026 merupakan wadah independen yang menampilkan sembilan pelajar terpilih. Mereka memaparkan proyek inovatif seputar isu lingkungan, kesehatan, energi, hingga pemberdayaan sosial di Indonesia.