PSIM Yogyakarta menjalani musim perdana di kasta tertinggi sepak bola Indonesia dengan performa impresif.

Di bawah arahan pelatih Jean-Paul van Gastel, Laskar Mataram mampu bersaing ketat di BRI Super League 2025/2026.

>>> MilkLife Soccer Challenge Kudus dan Malang Seri 2 Tuntas Digelar

Van Gastel resmi menangani PSIM sejak 17 Juni 2025. Manajemen tim menaruh harapan besar pada pelatih asal Belanda berusia 54 tahun itu berkat pengalamannya di Eropa.

Mantan pelatih NAC Breda ini berhasil membuktikan kapasitasnya.

PSIM finis di peringkat ke-11 klasemen akhir dengan 11 kemenangan, 12 hasil imbang, dan 11 kekalahan dari 34 pertandingan.

Identitas Permainan Berubah

Kehadiran Van Gastel tidak hanya berdampak pada perolehan poin. Ia juga mengubah identitas permainan PSIM menjadi lebih rapi, disiplin, dan solid dalam transisi.

Van Gastel mengakui sepak bola Indonesia memberikan pengalaman baru yang berharga. Ia menilai atmosfer dan karakteristik taktik di BRI Super League memiliki keunikan tersendiri.

“Saya menilai di liga ini banyak tim yang bermain mengandalkan transisi jadi mereka benar-benar bermain dengan low block.

Sebagai tim yang ingin bermain aktif menguasai bola bahayanya adalah Anda bisa 'dihabisi' oleh transisi itu,” ujarnya.

>>> Arthur Irawan Evaluasi Performa Persik Kediri Musim Ini

“Jadi, semuanya tergantung pada jenis pemain yang Anda miliki dan sistem seperti apa yang akan Anda mainkan. Saya rasa tidak ada perbedaan besar di antara tim-tim yang ada.”

“Menurut saya hanya Bandung (Persib) dan Jakarta (Persija) yang jauh lebih baik daripada kebanyakan tim lainnya,” kata pemegang lisensi UEFA Pro tersebut.

Pencapaian Tim Promosi

Van Gastel menganggap pencapaian PSIM sebagai tim promosi sudah sangat baik. Banyak pihak meragukan kekuatan PSIM pada awal musim, namun mereka berhasil menetap di papan tengah.

“Saya pikir kami telah melewati musim yang baik. Saya rasa banyak orang tidak menyangka kami akan tampil seperti ini.

Saya sangat senang dengan performa tim sepanjang musim ini dan saya sangat menantikan untuk memulai kembali musim depan,” tutur Van Gastel.

Pelatih kelahiran Breda itu menambahkan bahwa persaingan ketat di Liga Indonesia dipicu oleh meratanya kualitas antarklub. Jarak kekuatan yang tipis membuat klasemen menjadi dinamis.

“Menurut saya banyak tim yang bisa dikatakan memiliki kualitas serupa. Jadi perbedaannya tidak terlalu besar.

>>> Ginda Ferachtriawan Siap Bertanggung Jawab Atas Degradasi Persis Solo

Karena itu saya pikir banyak tim yang bisa saja terdegradasi tetapi juga bisa berakhir di posisi lima besar,” ucapnya.