"The pleasing thing for me, if I truly reflect on it, is there is still a place in this game for older gentlemen," tuturnya.

Di kubu lawan, Lennon menegaskan timnya tidak datang ke Hampden hanya untuk berekreasi. "It's not a day out for us," tegasnya kepada BBC.

>>> 5 Pemain Manchester United Berpotensi Hengkang Musim Panas 2026

Lennon meminta publik untuk tidak meremehkan status timnya sebagai underdog. "I wouldn't dismiss us.

We're the underdogs, but underdogs bite," ujarnya.

Ia juga merefleksikan momen emosional berada di area teknis yang bersebelahan dengan mantan mentornya, O'Neill.

"It'll still be surreal considering how long I've known him, what he's done for my career and what influence he's had on me," ungkap Lennon kepada The Guardian.

Lennon memuji pencapaian luar biasa O'Neill saat melatih Leicester City.

"Obviously getting promotion, and then he had four top-10 finishes in the Premier League and three League Cup finals.

He was on a fraction of a budget compared to the rest.

If that was a modern-day manager now, he'd be going to Bayern Munich or somewhere like that," katanya.

O'Neill juga melontarkan pujian kepada Iheanacho yang dinilainya telah menjadi idola baru bagi suporter. "Iheanacho has become a cult hero," ucapnya kepada Scottish Sun.

Ia mengapresiasi kontribusi kilat sang penyerang dalam membantu tim mengunci gelar juara domestik. "If you can do that over four games, then brilliant," pungkasnya.

Sebelum melaju ke final, Celtic menyingkirkan Auchinleck Talbot, Dundee, Rangers melalui adu penalti, serta St Mirren dengan skor 6-2 di semifinal.

Sementara itu, Dunfermline sukses menumbangkan tiga tim kasta tertinggi: Hibernian, Aberdeen, dan Falkirk lewat adu penalti setelah bermain imbang tanpa gol selama 120 menit.

>>> Veda Ega Pratama Siap Tebus Kegagalan COTA pada Balapan Moto3 Jerez Spanyol

Pertemuan ini merupakan yang kelima kalinya bagi kedua tim di final Piala Skotlandia. Celtic memenangi tiga final terakhir pada 1965, 2004, dan 2007, sedangkan Dunfermline menang pada 1961.