Tanpa Pemain Asing

Keberhasilan skuad Pangeran Biru kala itu terasa kian istimewa karena diraih tanpa menggunakan jasa pemain asing.

Hal ini berbanding terbalik dengan komposisi pemain Petrokimia Putra yang sudah diperkuat oleh pilar-pilar impor.

"Ya, sangat meriah sekali waktu itu. Jadi tonggak sejarah Persib, kita jadi bintang satu.

Itu awalnya bintang satu di jersey Persib. Tanpa pemain asing.

Pemain lokal semua. Tapi musuhnya pemain asing," ujar Sutiono Lamso.

Dukungan masif dari suporter yang memadati 90 persen kapasitas stadion di Jakarta menjadi suntikan motivasi bagi Sutiono.

Sejak awal laga, dirinya terus memikirkan taktik untuk membongkar pertahanan tim lawan.

"Banyaklah ya, momen-momen waktu itu. Pokoknya saya sebagai pemain depan, apalagi karena Bobotoh yang sangat besar sekali ya.

Mayoritas 90 persen itu, Stadion Gelora Bung Karno sudah dikuasai oleh Persib," tukasnya.

>>> Persib Bandung Siap Kunci Gelar Juara Hadapi Persijap Jepara

"Jadi gimana caranya nih saya bisa bikin gol lawan Petrokimia Putra di final. Saya berusaha terus pokoknya mencari kelemahan-kelemahan pemain belakang lawan.

Saya berusaha untuk bikin peluang dari awal pertandingan. Bila atas kena, bola bawah masih kena juga.

Harus gimana caranya?"

Gol penentu kemenangan akhirnya tercipta berkat kerja sama apik dengan Yusuf Bachtiar. Sutiono dengan cerdik mengecoh penjaga gawang asing lawan sebelum melepaskan sepakan akurat.

"Akhirnya ada momen. Waktu itu ada umpan dari Kang Yusuf di depan gawang, enggak saya shooting.

Kalau saya tembak, reflek kipernya bagus. Itu kipernya pemain asing.

Kalau saya shooting, pasti kena blok," kata Sutiono Lamso.

"Makanya, begitu saya pura-pura nembak, saat kipernya mulai gerak, baru saya shooting. Bolanya masuk gawang sangat lambat.