Tapi saya senang, gak apa-apa gak masuk. Saya selalu bermimpi dulu kalau jadi penulis itu pasti masuk, apalagi jadi redaktur.

>>> Khutbah Jumat 29 Mei 2026 tentang Tiga Wasiat Rasulullah untuk Umat Islam

Karena moralnya, kalau jadi redaktur kasih tempat sama orang," kata Seno tertawa.

Penyusunan kritik sosial dalam puluhan cerpen di buku tersebut sengaja disamarkan menggunakan balutan fiksi.

Pria yang akrab disapa SGA ini berupaya memancing kepedulian masyarakat terhadap isu-isu di luar Jakarta tanpa memunculkan kesan menghakimi.

Respons emosional berupa kemarahan diakui Seno menjadi salah satu pemantik utama dalam melahirkan karya-karyanya.

Hal tersebut terutama dirasakannya saat mengamati pergolakan situasi yang sempat melanda wilayah Timor Timur pada masa lalu.

"Jadi kalau ditanya, apa sih ide buat cerpen saya. Saya tuh merasa marah, gimana caranya orang ngerti tanpa bisa mencecar saya.

Itu pengalaman saya dapatkan dari Timor Timur. Tapi lama-lama sih Kompas jangan deh, lama-lama semua koran ngomong 'sory, dek'.

Bahkan yang saya tulis bukan soal itu (kritiknya)," ujar Seno.

Inspirasi penulisan fiksi tersebut muncul ketika Seno menjabat sebagai redaktur media massa saat konflik Timor Timur berkecamuk.

Ia tergerak memuat laporan jurnalisme dari dua wartawan perempuan bawahannya yang berhasil meliput langsung ke wilayah rawan tersebut agar situasi riil dapat diketahui publik.

Melalui buku antologi terbarunya, penerima penghargaan SEA Write Award 1997 ini berharap karya sastra dapat diposisikan sebagai ruang refleksi.

Sastra dipandang penting sebagai media alternatif di tengah pergeseran nilai masyarakat modern yang mendewakan kesuksesan material semata.

"Kenapa masih perlu ada sastra, sastra itu dunia alternatif. Kita kalau hidup tanpa alternatif, kasihan bener.

>>> Harga Emas 23 Mei 2026: Antam Bertahan di Level Rp 2,7 Juta

Kurang suksesnya kayak gitu, apalagi sekarang kesuksesan itu seperti berhala," pungkasnya.