Pertumbuhan kecerdasan buatan (AI), cloud computing, dan transformasi digital mulai mengubah kebutuhan infrastruktur pusat data di tingkat global, termasuk Indonesia.

Teknologi liquid cooling dinilai semakin penting untuk menjaga stabilitas dan efisiensi operasional data center generasi baru.

>>> IRSX Gandeng Huawei Cloud untuk Siarkan FIFA World Cup 2026

Dampak AI pada Data Center

Business VP Data Center Schneider Electric Indonesia, Ellya Cen, mengatakan AI telah membawa data center memasuki fase baru dengan kebutuhan daya dan sistem pendinginan yang lebih kompleks.

"AI membuat data center memasuki babak baru.

Infrastruktur yang dulu cukup diukur dari kapasitas ruang dan konektivitas, kini harus siap menghadapi kebutuhan daya yang lebih tinggi, panas yang lebih intens, dan tuntutan uptime yang semakin kritikal," ujar Ellya dalam siaran pers, Jumat (22/5).

Perkembangan AI juga mengubah pendekatan dalam desain dan operasional data center, termasuk pemilihan teknologi pendinginan.

"Pertumbuhan IT load yang diproyeksikan meningkat signifikan hingga 2031 menunjukkan bahwa kesiapan data center AI-ready menjadi semakin mendesak," katanya.

Proyeksi Kebutuhan Data Center

Schneider Electric mencatat kebutuhan kapasitas data center global diproyeksikan meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi digital dan tingginya penggunaan layanan digital diperkirakan akan mendorong lonjakan kebutuhan infrastruktur data center nasional.

IT load Indonesia diperkirakan naik dari sekitar 1.717 megawatt (MW) pada 2026 menjadi 4.145 MW pada 2031, dengan pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 19,27%.

>>> Jennifer Lopez Puji Adegan Mika Abdalla di Serial Off Campus

Peningkatan kebutuhan komputasi menghadirkan tantangan baru terkait konsumsi daya, pengelolaan panas, reliabilitas sistem, dan efisiensi energi.