Teknologi Pendinginan Hybrid

Sistem pendinginan data center kini mulai berkembang dari pendekatan konvensional berbasis air cooling menuju hybrid cooling yang menggabungkan air cooling dan liquid cooling.

Teknologi liquid cooling dinilai mampu mengelola panas secara lebih efektif pada lingkungan komputasi berdensitas tinggi, sekaligus membantu meningkatkan efisiensi energi dan skalabilitas operasional.

System & Architecture Engineer Schneider Electric Indonesia, Rifa Hasanah, mengatakan desain infrastruktur data center AI-ready memerlukan integrasi menyeluruh mulai dari sistem daya, pendinginan, arsitektur rak, hingga perangkat lunak pemantauan.

"Pendekatan tersebut bertujuan memastikan stabilitas performa komputasi sekaligus meminimalkan risiko operasional seperti thermal throttling, peningkatan konsumsi energi, hingga potensi gangguan layanan," ujarnya.

Keberlanjutan dan Efisiensi Energi

Selain tantangan teknis, pengembangan data center berbasis AI juga berkaitan dengan aspek keberlanjutan dan efisiensi energi.

Secara global, Schneider Electric menargetkan membantu pelanggan menghemat atau mengalihkan konsumsi energi hingga 1.500 terawatt-hour (TWh) serta menghindari emisi karbon kumulatif sebesar 1,5 miliar ton pada periode 2018–2030.

Ellya menilai transformasi AI akan terus mengubah lanskap infrastruktur digital dalam beberapa tahun ke depan, termasuk mendorong adopsi teknologi pendinginan yang lebih adaptif.

>>> Asyik Nyanyi Bareng Ari Lasso di Jogja Financial Festival 2026 Day 1

"Melalui portofolio end-to-end yang mencakup power, cooling, racks, dan software management, kami ingin membantu operator data center membangun infrastruktur yang lebih efisien, andal, dan mampu mengikuti pertumbuhan kebutuhan AI secara berkelanjutan," imbuhnya.