"Memberi bulldozer ke pekerja itu berbeda dengan menggilas pekerja memakai bulldozer," tulis salah satu komentar viral di media sosial.

Tak hanya itu, prediksi Bezos soal harga barang yang makin murah juga dipertanyakan.

Sejumlah pengamat menilai biaya hidup dan harga barang di banyak negara justru terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Banjir Investasi AI dan Pajak Miliarder

Dalam wawancara yang sama, Bezos menanggapi fenomena banjir investasi AI yang nilainya mencapai ratusan miliar dolar AS.

Menurutnya, sekalipun AI nantinya terbukti hanya gelembung (bubble), kondisi itu tetap positif karena mendorong inovasi teknologi.

"Kalaupun nantinya AI ternyata cuma bubble, itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan karena bubble tersebut tetap mendorong investasi dan inovasi," kata Bezos.

Pernyataan itu muncul di tengah langkah agresif perusahaan AI milik Bezos yang baru saja meraup pendanaan jumbo hingga US$ 10 miliar untuk proyek robotika AI.

Bezos juga menolak anggapan bahwa pajak lebih tinggi bagi para miliarder dapat menyelesaikan masalah ketimpangan sosial.

Menurutnya, menaikkan pajak orang kaya bukan solusi utama untuk membantu masyarakat kelas pekerja.

Namun kritik kembali muncul karena laporan investigasi ProPublica sebelumnya mengungkap sejumlah miliarder teknologi, termasuk Bezos, disebut menggunakan strategi finansial tertentu agar pajak efektif yang dibayar tetap sangat rendah.

Perdebatan soal AI pun semakin memanas.

Di satu sisi, tokoh teknologi seperti Bezos melihat AI sebagai jalan menuju produktivitas tanpa batas dan kehidupan lebih nyaman.

>>> Samsung dan Google Luncurkan Kacamata Pintar Berbasis AI

Namun di sisi lain, banyak pekerja khawatir AI justru memperlebar ketimpangan dan mengurangi lapangan kerja manusia.