Laporan ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Ekonomi Kreatif, Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), serta menjadi kelanjutan dari studi riset sebelumnya pada 2015-2020.

"Laporan ini menjadi landasan penting untuk mendorong transformasi industri menuju model berbasis kekayaan intelektual yang berdaya saing global," kata Teuku Riefky Harsya.

Daryl Wilson menegaskan bahwa sektor jasa animasi memiliki peran penting dalam memberikan kontribusi ekonomi secara signifikan.

Hanya saja, selama ini peran sektor jasa tersebut belum sepenuhnya terpetakan dan terkategori secara optimal dalam kerangka ekonomi Indonesia.

Bukan hanya itu, sektor jasa ini juga dinilai berpotensi besar ikut mendorong pertumbuhan PDB Indonesia dan penciptaan lapangan kerja.

>>> Google Luncurkan Daily Brief, Asisten AI untuk Atur Jadwal Harian

Indonesia Animation Report 2026 juga merekomendasikan lima paket kebijakan strategis yang bisa diterapkan oleh pemerintah dan pemangku kepentingan industri, termasuk reformasi akses pembiayaan berbasis kekayaan intelektual, percepatan perlindungan HKI, pembangunan jalur distribusi global, transformasi ekosistem talenta, serta penguatan infrastruktur dan desentralisasi industri.