PT BYD Motor Indonesia memastikan tidak mengubah harga jual kendaraan listriknya di pasar domestik. Keputusan ini diambil meskipun biaya produksi global sedang melonjak.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan harga komponen impor menjadi tantangan utama.

>>> BYD Rekomendasikan BBM RON 92 untuk Mobil M6 DM

Lonjakan biaya rantai pasok dipicu oleh tensi geopolitik serta naiknya harga material penting seperti lithium dan cip semikonduktor.

Produsen otomotif asal China ini menyatakan bahwa tekanan biaya komponen masih dapat diantisipasi. Strategi bisnis dan efisiensi yang telah dipersiapkan sebelumnya menjadi kunci.

Manajemen perusahaan menegaskan bahwa komitmen operasional di Indonesia berorientasi pada target jangka panjang. "Memang berdampak pada adanya fluktuasi dari cost of production.

Tapi yang saya sampaikan, BYD di Indonesia berinvestasi jangka panjang," ujar Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan di Jakarta.

Pihak manajemen menjelaskan bahwa berbagai tantangan pasar di Indonesia sudah diperhitungkan sejak awal ekspansi. Perusahaan tetap optimistis dengan skema pemasaran yang saat ini berjalan.

"Dan sampai saat ini kami masih tetap positif dan confident dengan strategi yang kami miliki baik secara produk, pricing juga promosi-promosi yang kami akan lakukan," kata Luther Panjaitan.

Kondisi di Indonesia berbeda dengan situasi pasar new energy vehicle (NEV) di China.

>>> Yadea Luncurkan Skutik Listrik GS70 dengan Teknologi Pintar

Setelah sempat diramaikan perang harga, sejumlah produsen di negara tersebut kini mulai menaikkan banderol kendaraan akibat lonjakan biaya produksi.

Beberapa merek global seperti BYD, Xiaomi, Volkswagen (VW), hingga Toyota dilaporkan telah melakukan penyesuaian harga di China.

Kenaikan harga bahan baku baterai seperti lithium carbonate serta lonjakan harga cip memori otomotif menjadi pemicu utama.

Langkah ini diambil di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dan kenaikan harga komponen impor.

Fluktuasi tersebut dipicu oleh lonjakan biaya rantai pasok akibat tensi geopolitik serta naiknya harga material penting seperti lithium dan cip semikonduktor, seperti dilansir dari Otomotif.

Produsen otomotif asal China ini menyatakan bahwa tekanan biaya komponen masih dapat diantisipasi melalui strategi bisnis dan efisiensi yang telah dipersiapkan sebelumnya.

>>> BYD Indonesia Rekomendasikan BBM RON 92 untuk M6 DM

Selain itu, manajemen perusahaan menegaskan bahwa komitmen operasional di tanah air berorientasi pada target jangka panjang.