Penolakan para mitra pendiri tersebut menjadi titik balik hubungan mereka dengan sang miliarder.

>>> Presale Konser The Weeknd Jakarta Kembali Dibuka, Antrean Membludak di Day 2

Altman menegaskan bahwa visi dasar pendirian organisasi ini adalah untuk mencegah pemusatan kekuatan teknologi tinggi pada satu individu.

"Salah satu alasan kami memulai OpenAI adalah karena kami tidak berpikir bahwa satu orang pun seharusnya mengendalikan AGI," ungkap Altman.

Akibat penolakan tersebut, Musk memutuskan mundur dari OpenAI pada awal tahun 2018 dan langsung menghentikan donasi rutin sebesar USD 5 juta per kuartal.

Korespondensi elektronik setelah hengkangnya Musk menunjukkan sikap pesimistis terhadap masa depan perusahaan tanpa keterlibatannya.

Perselisihan berlanjut ketika OpenAI mendirikan anak perusahaan komersial pada tahun 2019, di mana Musk menolak kesempatan investasi yang ditawarkan.

Keputusan penolakan investasi tersebut didasarkan pada prinsip pribadi Musk mengenai kendali penuh atas perusahaan rintisan.

"Dia mengatakan tidak karena dia tidak akan lagi berinvestasi di perusahaan rintisan mana pun yang tidak dia kendalikan," tandas Altman.

Altman mengingat momen ketika para pendiri membahas masa depan kepemimpinan perusahaan kecerdasan buatan tersebut bersama Musk.

"Momen yang sangat mengerikan adalah ketika rekan-rekan pendiri saya bertanya, 'Jika Anda memiliki kendali, apa yang terjadi ketika Anda meninggal?'

Dia mengatakan sesuatu seperti, '... mungkin itu harus diwariskan kepada anak-anak saya'," ujar Sam Altman, CEO OpenAI.

Menurut kesaksian Altman, restrukturisasi perusahaan memang dirancang untuk menarik modal dalam jumlah besar.

Musk juga merasa reputasi bisnisnya menjadi aset krusial untuk mendongkrak nilai dan pendanaan OpenAI secara instan melalui pengaruh media sosialnya.

>>> Meta Uji Coba WhatsApp Plus dengan Fitur Premium Berbayar

"Jika saya membuat satu cuitan tentang ini, nilainya akan langsung melonjak," kata Sam Altman, CEO OpenAI.