Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. Banyak pihak bertanya-tanya, mungkinkah kondisi ini bisa berbalik seperti yang terjadi pada era Presiden B.

J. Habibie?

>>> Bioskop Trans TV Malam Ini: Film Bencana Greenland Tayang Pukul 21.15 WIB

Pada tahun 1998, rupiah mengalami tekanan hebat. Namun, faktor utama saat itu lebih bersifat psikologis.

Sementara itu, pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh tekanan fundamental. Perbedaan ini menjadi kunci dalam menganalisis prospek ke depan.

Perbandingan Kondisi 1998 dan Sekarang

Krisis moneter 1998 memicu kepanikan massal. Kepercayaan terhadap sistem perbankan dan pemerintahan runtuh.

Faktor psikologis menjadi pendorong utama pelemahan rupiah kala itu. Ketidakpastian politik dan ekonomi memperburuk situasi.

Setelah Habibie menjabat, langkah-langkah restrukturisasi dan reformasi mulai dilakukan. Kepercayaan perlahan pulih, dan rupiah pun menguat.

Saat ini, tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor fundamental. Kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat menjadi pemicu utama.

Selain itu, ketergantungan Indonesia pada impor dan utang luar negeri juga ikut membebani. Neraca perdagangan yang defisit turut menekan nilai tukar.

>>> AHY: Perang Timur Tengah Dorong Kenaikan Harga Tiket Pesawat

Faktor psikologis memang masih ada, namun porsinya tidak sebesar tahun 1998. Pelaku pasar kini lebih rasional dalam merespons sentimen.

Prospek Penguatan Rupiah

Untuk bisa berbalik seperti era Habibie, diperlukan penanganan fundamental yang kuat. Kebijakan moneter dan fiskal harus kredibel.

Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valas. Namun, efektivitasnya terbatas jika tekanan eksternal masih tinggi.

Pemerintah juga perlu mendorong peningkatan ekspor dan pengurangan impor. Hilirisasi sumber daya alam menjadi salah satu strategi.

Investasi langsung asing yang masuk dapat memperkuat cadangan devisa. Hal ini akan membantu menstabilkan rupiah dalam jangka panjang.

Namun, proses pemulihan fundamental membutuhkan waktu. Tidak bisa instan seperti pemulihan psikologis di era Habibie.

Dengan demikian, peluang rupiah menguat kembali tetap ada. Namun, skalanya mungkin tidak sebesar dan secepat tahun 1998.

>>> Jadwal Final AVC Champions 2026 Putra: Bhayangkara vs Sirjan Live Moji TV

Kuncinya terletak pada konsistensi kebijakan dan perbaikan struktur ekonomi. Jika fundamental membaik, rupiah pun berpotensi menguat secara bertahap.