GitLab, perusahaan perangkat lunak, berencana melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sejumlah karyawan.

Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi bisnis untuk bertransformasi menjadi platform utama pengembangan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan.

>>> Elon Musk Curi Perhatian dengan Ekspresi Jenaka di Jamuan Makan Malam Kenegaraan China

Perampingan organisasi ini tidak semata-mata untuk efisiensi biaya. Dana yang dihemat akan dialokasikan kembali untuk investasi infrastruktur teknologi.

CEO GitLab, Bill Staples, menegaskan bahwa kebijakan ini berbeda dengan fenomena PHK massal di industri teknologi global. "Proses restrukturisasi ini tidak seperti yang mungkin Anda lihat di berita.

AI memang mengubah cara kita bekerja, tetapi ini bukan upaya optimasi AI atau pengurangan biaya," ujarnya.

Manajemen perusahaan berniat memangkas struktur organisasi yang terlalu rumit. Saat ini, GitLab memiliki delapan lapisan manajemen yang dinilai memperlambat proses pengambilan keputusan internal.

"Kami merampingkan organisasi karena lapisan manajemen yang terlalu dalam memperlambat kami," kata Bill Staples.

Berdasarkan laporan The Register, GitLab juga membuka opsi pemutusan hubungan kerja sukarela.

Perusahaan berencana memotong jumlah negara operasional tim kecil hingga 30 persen dari total sekitar 60 negara saat ini.

Hingga kini, kriteria resmi serta jumlah pasti pekerja yang terdampak belum diumumkan. Data dari perusahaan analitik Unify memperkirakan total karyawan GitLab mencapai 1.800 orang.

>>> Elon Musk Sebut Instagram Aplikasi Khusus Perempuan, Tuai Kontroversi

Tekanan bisnis akibat kenaikan harga layanan premium hingga 50 persen beberapa tahun lalu turut memicu restrukturisasi ini. Stagnasi anggaran SaaS juga menjadi faktor pendorong.

Ke depan, GitLab akan mengandalkan Duo Agent Platform (DAP) sebagai andalan bisnis.

Detail lengkap mengenai jumlah pengurangan karyawan dan rencana restrukturisasi akan diumumkan dalam laporan keuangan kuartal pertama tahun fiskal 2027 pada 2 Juni mendatang.