Rencana ambisius Microsoft bersama G42 untuk membangun pusat data senilai USD 1 miliar di Kenya menghadapi hambatan serius.

Proyek yang digadang-gadang sebagai investasi teknologi terbesar di Afrika Timur itu terancam mandek.

>>> Jadwal Film dan Sepakbola 17 Mei 2026: PSM vs Persib Tayang di ANTV

Penyebab utamanya adalah krisis pasokan listrik yang berkepanjangan di negara tersebut.

Selain itu, masalah terkait jaminan finansial juga ikut memperumit realisasi proyek ini.

Krisis Listrik Jadi Batu Sandungan

Kenya saat ini mengalami defisit pasokan listrik yang cukup parah.

Padahal, pusat data AI membutuhkan daya listrik yang sangat besar dan stabil untuk beroperasi.

Tanpa jaminan pasokan listrik yang memadai, investor enggan melanjutkan pembangunan.

Pemerintah Kenya pun tengah berupaya mencari solusi untuk mengatasi krisis ini.

>>> Singtel Kuasai Kapitalisasi Pasar Telekomunikasi Asia Tenggara 2025

Jaminan Finansial Belum Tuntas

Selain listrik, aspek pendanaan juga menjadi ganjalan bagi proyek tersebut.

Microsoft dan G42 membutuhkan kepastian mengenai insentif dan jaminan investasi dari pemerintah Kenya.

Negosiasi yang alot membuat kesepakatan akhir belum juga tercapai.

Jika tidak segera diatasi, proyek ini bisa dialihkan ke negara lain di kawasan.

Investasi senilai USD 1 miliar ini sebenarnya sangat dinantikan untuk mendorong transformasi digital Kenya.

>>> Wahana Psyche NASA Abadikan Foto Langka Mars dari Jarak Dekat

Namun, tanpa perbaikan infrastruktur listrik dan kepastian regulasi, masa depan proyek masih belum jelas.