Korut Tuding NATO Kian Agresif Usai KTT, Janji Perkuat Senjata Nuklir
Korea Utara melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya setelah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang digelar pekan ini.
Pyongyang menilai aliansi militer tersebut semakin memperkuat blok pertahanan dan mempercepat perlombaan senjata yang mengancam stabilitas kawasan.
>>> Mengapa Top Skor Piala Dunia 2026 Lebih Banyak Jalan Dibanding Lari?
Melalui kantor berita resmi KCNA, Kementerian Luar Negeri Korea Utara menuduh para pemimpin NATO menggambarkan pelaksanaan hak kedaulatan Pyongyang sebagai ancaman.
Menurut Korea Utara, hasil KTT NATO justru menunjukkan komitmen yang lebih kuat terhadap konfrontasi antarblok melalui peningkatan belanja pertahanan dan kerja sama militer yang lebih erat dengan negara-negara mitra di kawasan Asia-Pasifik.
Pernyataan itu disampaikan setelah KTT NATO di Turki pada Selasa (7/7) yang menghasilkan lebih dari US$50 miliar atau sekitar Rp904,02 triliun dalam kesepakatan pengadaan alat pertahanan dan kerja sama industri militer.
Komitmen tersebut muncul di tengah dorongan Presiden AS Donald Trump agar negara-negara Eropa meningkatkan kontribusi mereka terhadap pembiayaan pertahanan NATO.
Pyongyang juga menyoroti pernyataan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung yang disampaikan di sela-sela KTT.
Lee menyatakan, Seoul ingin memperluas kerja sama dengan negara-negara NATO, termasuk di bidang riset dan pengembangan teknologi canggih serta produksi sistem persenjataan.
>>> Topan Bavi Mengamuk di Jepang-Taiwan, 14 Ribu Warga Mengungsi
Korea Utara menilai langkah tersebut mempertegas bahwa NATO kini berorientasi pada konfrontasi dan perang, serta lebih mengutamakan kepentingan geopolitik tertentu dibanding menjaga perdamaian dan keamanan di Eropa maupun kawasan Asia-Pasifik.
Dalam pernyataannya, Pyongyang kembali menegaskan bahwa desakan negara-negara Barat agar Korea Utara meninggalkan program senjata nuklir sudah tidak lagi relevan.
Sebaliknya, Korea Utara berpendapat upaya denuklirisasi seharusnya lebih dulu diarahkan kepada apa yang mereka sebut sebagai ambisi Korea Selatan dan Jepang untuk memperkuat kemampuan nuklir di bawah perlindungan AS, serta keterlibatan sejumlah anggota NATO dalam skema nuclear sharing.
Pyongyang menegaskan akan terus menjaga kedaulatan dan kepentingan keamanannya melalui pelaksanaan hak-hak berdaulat yang mereka sebut bertanggung jawab.
Sebelumnya, KCNA juga melaporkan Korea Utara telah memutuskan mengambil langkah untuk memperkuat kemampuan nuklirnya, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.
>>> Hanaori-san Still Wants to Fight in the Next Life Dapat Dub Inggris pada 11 Juli
Kebijakan itu sejalan dengan arahan pemimpin Kim Jong Un yang terus mendorong modernisasi kekuatan militer negara tersebut.
Update Terbaru
Kisah Masa Kecil Sandara Park, Nyaris Tak Bicara 10 Tahun di Filipina
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
John Park Bongkar Rahasia Bisa Masuk Klub Malam Berghain di Berlin
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
Young K DAY6 Ungkap Makna di Balik Album Solo Kedua YOUNGEST
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
Vernon dan DK SEVENTEEN Umumkan Jadwal Resmi Wajib Militer
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
BabyMonster Siap Rilis Video Musik MOON pada 3 Agustus Mendatang
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
Perjalanan Emosional Ibu dan Anak dalam The Journey to Gyeongju
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
Festival musik global Fanomenon siap digelar Korea Selatan di LA pada 2028
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
Boy band NouerA kembali lewat EP keempat berjudul .exe dengan konsep cinta
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Kecelakaan Maut Ferrari SF90 Terbelah Dua di Australia, Pengemudi Selamat
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Eks Insinyur VW Didakwa Insider Trading Saham Rivian dan Cari Batas Waktu Hukum
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Barclays, Halifax, dan Lloyds Alami Gangguan Massal Akses Rekening
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Susunan Pemain Laga Indonesia vs Kamboja: Debut Baker Warnai Lini Depan Garuda
Senin / 27-07-2026, 22:49 WIB
Danantara Masuk KSSK, Prabowo Ingin Kebijakan Ekonomi Lebih Luas
Senin / 27-07-2026, 22:49 WIB
Sebut AS Geng Mafia dan Abaikan Hukum, Iran Ajukan Syarat Diplomasi
Senin / 27-07-2026, 22:49 WIB







