Keputusan Sony menghentikan produksi cakram game PlayStation memicu kembali perdebatan soal masa depan media fisik.

Langkah ini ironisnya mirip dengan strategi yang pernah dicoba Microsoft lewat Xbox One lebih dari satu dekade lalu—strategi yang dulu dikritik habis-habisan oleh Sony.

>>> Presiden Portugal yang Tidak Suka Sepak Bola, Berakhir Dikudeta

Mantan ketua Worldwide Studios PlayStation, Shawn Layden, angkat bicara soal perubahan ini. Dalam wawancara dengan Eurogamer, ia menyebut langkah Sony sebagai momen penting bagi industri.

Meski sudah hengkang dari Sony pada 2019 dan mengaku tak punya informasi internal, Layden yakin keputusan itu lebih soal realitas pasar ketimbang filosofi.

Keputusan Bisnis Berdasarkan Data

Layden menduga pergeseran dari cakram fisik ke digital didorong oleh data penjualan. "Jika Anda melihat keputusan untuk menghentikan produk atau fitur, sebagian besar itu keputusan spreadsheet," ujarnya.

Ia mengingat saat penjualan digital masih nol persen, lalu tumbuh perlahan. Pandemi COVID-19 mempercepat adopsi digital karena pemain terbiasa mengunduh game.

Penurunan toko ritel game juga mengurangi permintaan rilis fisik.

Kebalikan dari Era Xbox One

Langkah Sony membangkitkan kenangan momen pemasaran ikonik. Saat Microsoft meluncurkan Xbox One pada 2013, mereka mengusung ekosistem digital-first dengan verifikasi online.

Rencana itu menuai kritik dan Microsoft mundur sebelum peluncuran.

Sony memanfaatkannya dengan video "How to Share Games on PS4" yang memperlihatkan eksekutif berbagi cakram fisik secara lucu.

Kini, lebih dari satu dekade kemudian, industri berubah drastis.

Rockstar Games baru-baru ini mengonfirmasi bahwa edisi fisik Grand Theft Auto VI hanya berisi kode unduhan, bukan cakram game.

Ini semakin menegaskan pergeseran ke distribusi digital.