Guru Besar IPB Minta Klaim Rugi Rp600 Triliun Akibat Under-Invoicing Sawit Diaudit Independen
"Mengklaim kerugian Rp600 triliun tanpa merinci apakah itu kerugian pajak, kerugian devisa, atau total nilai barang yang dikatakan hilang merupakan cacat metodologi," katanya.
Angka Kerugian Tidak Sejalan dengan Nilai Ekspor
Sudarsono juga mempertanyakan besarnya angka kerugian yang diklaim pemerintah karena tidak sejalan dengan nilai ekspor sawit Indonesia yang berada di kisaran Rp590 triliun.
Jika kerugian akibat under-invoicing disebut mencapai Rp500-600 triliun, secara statistik hal itu seolah menunjukkan hampir seluruh ekspor sawit mengalami penggelapan nilai.
Ia menduga kemungkinan terjadi kesalahan dalam metode perhitungan, seperti menjumlahkan seluruh nilai transaksi global, mencampuradukkan harga CPO mentah dengan produk hilir di pasar internasional, atau menggunakan basis perhitungan yang keliru.
"Jika 100 persen ekspor dianggap mengalami under-invoicing, maka bukan hanya sektor sawit yang bermasalah, tetapi seluruh sistem pencatatan negara yang harus dirombak," ujarnya.
Lebih lanjut, Sudarsono mengingatkan bahwa perbedaan harga dalam perdagangan komoditas tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran hukum.
Harga referensi internasional, seperti Malaysian Palm Oil Price (MOPS) maupun harga acuan di Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), hanya berfungsi sebagai patokan dasar.
Sementara harga transaksi riil dipengaruhi berbagai faktor komersial yang sah.
>>> Ramalan Zodiak 4 Juli: Cancer Singkirkan Ego, Leo Kembangkan Ide Baru
Beberapa faktor tersebut meliputi perbedaan skema perdagangan (Incoterms) antara FOB dan CIF, kualitas CPO yang ditentukan antara lain oleh kadar Free Fatty Acid (FFA) dan indeks DOBI, skema pembayaran seperti pembayaran tunai di muka atau kredit, serta bentuk pengiriman, baik curah (bulk) maupun dalam kemasan.
Karena itu, menurutnya, perbandingan harga ekspor dengan harga pasar internasional hanya dapat dijadikan indikator risiko (red flag), bukan alat bukti hukum.
Update Terbaru
WNI Cerita Panas Ekstrem di Jerman: Napas Sesak, Rumah Seperti Microwave
Sabtu / 04-07-2026, 15:21 WIB
Penerbangan Nonstop Pertama di Dunia Bakal Rilis Tahun Depan
Sabtu / 04-07-2026, 15:21 WIB
Air Mata dan Teriakan Massa di Upacara Pemakaman Ali Khamenei
Sabtu / 04-07-2026, 15:17 WIB
Keributan Timnas Mesir dengan Polisi AS di Piala Dunia
Sabtu / 04-07-2026, 15:17 WIB
Trump Sebut Ada Upaya Ubah Karakter Bangsa Amerika Serikat
Sabtu / 04-07-2026, 15:17 WIB
Sensus Ekonomi 2026 Rekam Kontribusi Perempuan dalam Perekonomian
Sabtu / 04-07-2026, 15:15 WIB
Satgas Cartenz: Pelaku Penembakan Pilot AS adalah Kelompok Bakusip
Sabtu / 04-07-2026, 15:15 WIB
KPK: Bupati Langkat Tahu Hendak di-OTT, Ungkap Kode 'Situasi Memanas'
Sabtu / 04-07-2026, 15:15 WIB
10 Negara dengan Aturan Aneh buat Turis, Dilarang Pakai Baju Loreng
Sabtu / 04-07-2026, 15:15 WIB
Jadwal Siaran Langsung Paraguay vs Prancis di 16 Besar Piala Dunia 2026
Sabtu / 04-07-2026, 15:15 WIB
Harga HP Naik? Ini Tips David Gadgetin Agar Tetap Untung
Sabtu / 04-07-2026, 15:15 WIB
JBL Quantum Resmi Hadir di Indonesia, Headset Gaming untuk Semua Level
Sabtu / 04-07-2026, 15:14 WIB
Taylor Swift Tak Libatkan Bridesmaids, Ini Alasan di Balik Keputusannya
Sabtu / 04-07-2026, 15:11 WIB
5 Perbedaan Tone Up Cream dan Tone Up Sunscreen yang Sering Bikin Keliru
Sabtu / 04-07-2026, 15:07 WIB






