Sekutu Eropa berhasil mengisi sebagian besar kekurangan kemampuan militer yang timbul akibat keputusan Amerika Serikat untuk mengurangi kontribusi krisisnya, demikian diungkapkan Panglima Tertinggi NATO, Jenderal Alex Grynkewich, Jumat (3/7/2026).

Pernyataan itu disampaikan menjelang KTT aliansi di Turki pada 7-8 Juli, menyusul pengumuman Washington pada 3 Juni yang mengurangi komitmen kapal induk, kapal pendukung, pesawat pengisi bahan bakar, dan jet tempur ke Eropa.

>>> Polisi Florida Tangkap 59 Orang dalam Operasi Prostitusi Online

Perubahan kebijakan itu memaksa negara-negara anggota mengevaluasi ulang NATO Force Model, yang mengatur bagaimana 32 negara sekutu menyediakan aset militer selama enam bulan pertama krisis atau konflik.

"Dalam hitungan minggu, sekutu Eropa sebagian besar telah mengisi celah yang ditinggalkan oleh pengurangan AS terhadap NATO Force Model," kata Jenderal Alex Grynkewich, Panglima Tertinggi Sekutu Eropa NATO.

Sang komandan mencatat bahwa alternatif operasional spesifik sedang dikembangkan untuk area terbatas di mana kemampuan pencocokan langsung belum tersedia dalam inventaris Eropa.

"Dan di beberapa area di mana mereka belum melakukannya, di mana mereka saat ini tidak memiliki kemampuan serupa untuk menggantikan, kami mencari kemampuan alternatif dengan efek yang setara," ujar Grynkewich.

Pentagon sebelumnya memberi tahu sekutu bahwa sumber daya akan dialihkan untuk menangani prioritas strategis yang muncul, terutama terkait China di kawasan Indo-Pasifik, mendorong negara-negara seperti Inggris meningkatkan kesiapan kapal induk kedua dan jet F35 mereka.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte meminimalkan dampak jangka panjang dari keputusan tersebut, mencatat bahwa Washington tetap siap mengerahkan kembali aset ke Eropa jika rencana pertahanan kolektif secara resmi diaktifkan.

>>> Iran Gelar Pemakaman Pemimpin Tertinggi, Suksesi Jadi Sorotan