Dua mantan pengembang Rocksteady Studios mengungkapkan bahwa tekanan dari model live-service dalam pengembangan Suicide Squad: Kill the Justice League hampir membuat mereka meninggalkan industri game.

Dalam wawancara dengan Bloomberg, Johnny Armstrong dan Axel Rydby menceritakan beban emosional selama menggarap proyek tersebut. Mereka merasa siklus pengembangan lebih didominasi target komersial daripada kreativitas.

>>> Direktur Clair Obscur: Expedition 33 Bela Ketidaksempurnaan Game

Suicide Squad: Kill the Justice League dirilis pada 2024 dan mendapat beragam ulasan. Banyak kritik menyoroti struktur live-service dan gameplay yang repetitif.

Warner Bros. Discovery bahkan mencatat kerugian hingga $200 juta akibat game ini.

Kreativitas Terpinggirkan oleh Target Komersial

Armstrong menjelaskan bahwa tim awalnya percaya diri setelah kesuksesan seri Batman: Arkham. Namun, optimisme itu memudar seiring penundaan berulang yang meningkatkan tekanan.

"Ada rasa percaya diri saat pertama kali beralih ke proyek ini. Kami datang setelah rentetan kesuksesan.

Tentu kami bisa melakukannya," kata Armstrong.

Bagi Rydby, pengalaman itu semakin jauh dari proses kreatif yang dulu membuatnya tertarik pada pengembangan game. "Saya merasa tidak lagi membuat game.

Saya hanya mengikuti spreadsheet analisis pemasaran yang tidak jelas," ujarnya.

Diskusi di studio lebih banyak berputar pada metrik seperti replayability, retensi pemain, dan performa komersial, bukan inovasi gameplay.

Jadwal Ketat dan Kelelahan

Wawancara juga menyoroti jadwal produksi yang intens. Rydby mengatakan pengembang diharapkan memberikan perbaikan besar dalam waktu yang tidak realistis.

>>> Calon Presiden Prancis Desak Aturan Baru Kepemilikan Digital Setelah Sony Hentikan Disk Fisik

"Enam bulan tidak cukup untuk melakukan perubahan fundamental. Hanya cukup untuk memperbaiki bug sebanyak mungkin dan sedikit penyesuaian fitur," jelas Rydby.