Fashion Berkelanjutan Masih Sulit Diakses karena Keterbatasan Geografis
Kesadaran masyarakat terhadap dampak lingkungan dari industri fashion terus meningkat.
Semakin banyak konsumen yang memilih merek ramah lingkungan atau memperpanjang usia pakaian dengan memperbaiki, menjual kembali, hingga mendaur ulang.
>>> Teknologi AI Bantu Kenali Kondisi Kulit Sebelum Beli Skincare
Survei global pada 2018 menunjukkan 66 persen generasi milenial bersedia membeli lebih banyak produk dari merek berkelanjutan.
Generasi Z juga memiliki kepedulian tinggi, dengan 62 persen lebih memilih merek yang menjalankan praktik berkelanjutan dan 73 persen bersedia membayar lebih.
Layanan Daur Ulang Terbatas Secara Geografis
Meski minat konsumen tinggi, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa inisiatif fashion berkelanjutan belum tentu dapat diakses semua orang karena faktor geografis.
Penelitian dari University of Birmingham, University of Bristol, University of Georgia, dan Buffalo State University menganalisis 17 perusahaan pakaian olahraga yang mengklaim menerapkan ekonomi sirkular.
Mereka mengkaji program pascapembelian seperti perbaikan, penukaran, dan daur ulang tekstil.
Hasilnya, setiap perusahaan memiliki sistem pengelolaan limbah berbeda, namun sebagian besar hanya dapat dimanfaatkan konsumen di wilayah tertentu.
>>> Tolak Jalur Damai, Kader PSI Beri 'Wejangan' untuk dr. Tifa
Ketua Bidang Kewirausahaan dan Geografi Ekonomi di Birmingham Business School, Profesor John Bryson, mengatakan langkah perusahaan patut dipuji.
Namun, Waste Reduction Network yang ditawarkan sangat terbatas secara geografis.
Ia menambahkan, meskipun perusahaan menjual produk secara internasional, jaringan pengurangan limbah umumnya hanya beroperasi di tingkat lokal, regional, atau nasional.
Akibatnya, pelanggan dari negara lain harus mengirim pakaian bekas ke lokasi jauh dengan biaya tinggi dan emisi karbon tambahan.
Kolaborasi Jadi Solusi Memperluas Akses
Penelitian menyarankan perusahaan bekerja sama dengan platform penjualan pakaian bekas dan komunitas lokal. Dengan begitu, layanan penggunaan kembali dan daur ulang dapat diakses lebih luas.
“Salah satu cara membantu menjembatani kesenjangan adalah bekerja sama dengan perantara seperti eBay, Vinted, atau Depop yang populer di kalangan konsumen sadar lingkungan,” jelas John.
>>> PSSI Segera Umumkan Skuad Timnas untuk ASEAN Cup, Vickery dan Baker Menunggu Keppres
Intervensi pemerintah dalam sistem pengelolaan limbah tekstil juga dinilai penting agar lebih banyak pakaian didaur ulang daripada berakhir di TPA.
Update Terbaru
Pemerintah Kutuk Keras Pembakaran Pesawat dan Penembakan Pilot oleh OPM
Jumat / 03-07-2026, 22:47 WIB
Ronaldo Jadi Pemain Tertua Cetak Gol di Fase Gugur Piala Dunia
Jumat / 03-07-2026, 22:47 WIB
Terdakwa Pembunuhan Satu Keluarga di Indramayu Divonis Seumur Hidup
Jumat / 03-07-2026, 22:47 WIB
Pelatih Argentina: Cape Verde Lolos 32 Besar Bukan karena Kebetulan
Jumat / 03-07-2026, 22:47 WIB
Karyawan Xbox Pertanyakan Strategi Asha Sharma, Pimpinannya Dinilai Terlalu Terpengaruh Twitter
Jumat / 03-07-2026, 22:47 WIB
5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Jumat / 03-07-2026, 22:46 WIB
4 Sepeda Road Bike Rp2 Jutaan, Cocok untuk Pemula hingga Gowes Jarak Jauh
Jumat / 03-07-2026, 22:46 WIB
Tiga Pelajar SD Raih Nilai Sempurna di Olimpiade Matematika Nasional
Jumat / 03-07-2026, 22:46 WIB
Korea Gagal di Piala Dunia 2026, KFA Minta Maaf dan Siapkan Pelatih Baru
Jumat / 03-07-2026, 22:37 WIB
Kebakaran TPA Jatiwaringin Padam 30%, Petugas Gunakan Sistem Inject
Jumat / 03-07-2026, 22:37 WIB
Kemendagri Minta Klarifikasi Bupati Purwakarta, Saepul Akui Kesalahan
Jumat / 03-07-2026, 22:37 WIB
Amien Rais Sebut PN Jakarta Timur Pengadilan Paling Aneh se-Asia Tenggara
Jumat / 03-07-2026, 22:37 WIB
Hashim Ungkap Ide MBG Sudah Digagas Prabowo Sejak 2006, Tak Akan Dihentikan
Jumat / 03-07-2026, 22:37 WIB
Bank Mandiri Kumpulkan 7.000 Kantong Darah Lewat Program Donor 2026
Jumat / 03-07-2026, 22:36 WIB






