Industri fashion global menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun.

Di Indonesia, limbah tekstil menyumbang 2,63 persen dari total sampah nasional, menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN).

>>> 3 Varian Parfum Careso Favorit Owner, Wangi Enak dan Tahan Lama

Volume limbah yang besar menunjukkan bahwa masalah tidak hanya terletak pada konsumsi pakaian yang tinggi, tetapi juga pada sistem produksi yang masih boros.

Kondisi ini mendorong para peneliti mencari pendekatan yang tidak sekadar mengelola limbah, tetapi juga mengurangi dampaknya sejak awal.

Salah satu pendekatan yang mulai mendapat perhatian adalah upcycling.

Metode ini mengubah pakaian bekas atau limbah tekstil menjadi produk baru dengan nilai lebih tinggi tanpa menghancurkan material aslinya.

Pendekatan ini menjadi fokus dalam penelitian berjudul Convivial Circularities for Degrowth: The Case of Upcycling.

Studi tersebut menilai upcycling tidak hanya mampu mengurangi limbah tekstil, tetapi juga menjadi bagian dari konsep degrowth, yaitu gagasan mengurangi produksi dan konsumsi secara terencana demi keseimbangan lingkungan.

Mengapa Daur Ulang Saja Tidak Cukup?

Selama ini, daur ulang (recycling) kerap dianggap sebagai solusi utama. Namun, efektivitasnya masih sangat terbatas.

Hanya sekitar 1 persen pakaian bekas yang berhasil didaur ulang menjadi pakaian baru. Sebagian besar sisanya berakhir di tempat pembuangan akhir, dibakar, atau diekspor sebagai limbah.

Berbeda dengan recycling yang mengolah kembali material menjadi bahan baku, upcycling memanfaatkan produk yang sudah ada untuk dijadikan barang baru dengan nilai lebih tinggi.

Misalnya, pakaian bekas diubah menjadi tas, aksesori, atau pakaian dengan desain baru.

>>> Pasutri Lansia Indonesia Taklukkan Rute Jakarta-Mekkah Pakai Toyota Voxy