Laju inflasi Indonesia kembali meningkat pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) sebesar 3,34 persen, lebih tinggi dibandingkan 1,87 persen pada periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut juga melampaui perkiraan pasar yang berada di level 3,22 persen sekaligus menjadi laju inflasi tercepat dalam tiga bulan terakhir.

Secara bulanan, inflasi mencapai 0,44 persen, naik dari 0,19 persen pada Mei. Kenaikan ini menunjukkan tekanan harga mulai meluas ke berbagai kelompok pengeluaran, tidak lagi hanya bertumpu pada sejumlah komoditas pangan.

>>> Daveigh Chase Meninggal, Laporan Medis Ungkap AIDS sebagai Penyebab Kematian

Tekanan Harga Meluas ke Berbagai Sektor

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan 4,67 persen dan memberikan andil 1,36 poin persentase terhadap inflasi nasional.

Komoditas pangan bergejolak seperti beras, ikan segar, minyak goreng, cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah menjadi pendorong utama. Inflasi kelompok volatile food tercatat 5,58 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi inti yang mencapai 2,76 persen maupun komponen harga yang diatur pemerintah sebesar 3,42 persen.

Perbedaan tersebut memperlihatkan tekanan inflasi masih banyak dipicu kenaikan biaya produksi dan distribusi. Artinya, dorongan dari sisi penawaran masih lebih dominan dibandingkan peningkatan permintaan masyarakat.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat lonjakan inflasi hingga 10,1 persen. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi faktor utama dengan kontribusi 0,61 poin persentase terhadap inflasi nasional.

Naiknya harga emas dunia serta meningkatnya minat masyarakat terhadap aset yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian global ikut tercermin dalam pola konsumsi rumah tangga.