>>> Penyebab Kematian Daveigh Chase Diungkap, Pengisi Suara Lilo Meninggal karena AIDS

Transportasi Ikut Mendorong Inflasi

Tekanan harga juga terlihat pada sektor transportasi yang mengalami inflasi 4,57 persen. Kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara menjadi penyebab utama, bahkan kelompok ini menyumbang 0,28 poin dari total inflasi bulanan sebesar 0,44 persen.

Gangguan pasokan akibat krisis di Selat Hormuz turut meningkatkan biaya energi dan logistik. Dampaknya kemudian merambat ke ongkos distribusi barang dan harga berbagai kebutuhan di dalam negeri.

Karena sebagian besar kenaikan harga berasal dari pangan, energi, dan distribusi, tekanan inflasi saat ini lebih banyak dipicu faktor biaya dibandingkan konsumsi yang terlalu tinggi.

Daya Beli Berpotensi Semakin Tertekan

Kondisi tersebut meningkatkan risiko penurunan daya beli masyarakat, terutama rumah tangga berpendapatan rendah. Saat harga kebutuhan pokok terus naik, ruang untuk mengurangi konsumsi menjadi semakin terbatas sehingga porsi pengeluaran untuk kebutuhan dasar semakin besar.

Situasi itu sejalan dengan temuan Bank Dunia yang mencatat lapangan kerja baru di Indonesia semakin banyak berasal dari sektor berproduktivitas rendah. Di sisi lain, kesempatan kerja bagi tenaga berkeahlian menengah dan tinggi terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam laporan Indonesia Economic Prospect 2026, Bank Dunia menyebut upah riil pekerja berketerampilan menengah dan tinggi turun sekitar 1 hingga 2 persen per tahun sejak 2018. Sementara itu, proporsi pekerja yang masuk kelompok pendapatan kelas menengah merosot dari 14,5 persen pada 2018 menjadi sekitar 7 persen pada 2025.

Jika tren tersebut berlanjut, pertumbuhan pendapatan berisiko tertinggal dari kenaikan biaya hidup. Akibatnya, belanja rumah tangga untuk kebutuhan non-esensial berpotensi semakin ditekan sehingga konsumsi domestik kehilangan tenaga sebagai penopang pertumbuhan ekonomi.