Dalam beberapa praktik, limbah makanan juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami kain. Hal ini mampu mengurangi limbah dari dua sektor sekaligus, yaitu tekstil dan pangan.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Penelitian tersebut mengamati praktik upcycling di Turki, salah satu produsen tekstil terbesar di Eropa.

Hasilnya menunjukkan bahwa keberhasilan upcycling tidak hanya bergantung pada kreativitas desain, tetapi juga kolaborasi antara berbagai pihak.

Di sejumlah wilayah seperti Erzurum, Mula, dan Kilis, para desainer bekerja sama dengan perempuan di pedesaan untuk mengolah sisa kain menjadi kain tenun dan pakaian.

Kegiatan ini sekaligus mempertahankan keterampilan tradisional masyarakat setempat.

Kolaborasi juga dilakukan dengan pelaku usaha lokal. Limbah makanan dari kafe dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami tekstil.

Pada masa pandemi Covid-19, berbagai pihak bersama-sama memproduksi seragam tenaga kesehatan menggunakan material hasil daur ulang.

Menurut para peneliti, pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa ekonomi sirkular tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga hubungan sosial, pengetahuan lokal, dan kerja sama antaraktor.

Meski menjanjikan, upcycling masih menghadapi tantangan. Skalabilitas dan konsistensi pasokan bahan baku menjadi kendala utama.

>>> Wajah Baru New Suzuki XL7 yang Tampil Lebih Sporty dengan Sederet Perubahan Eksterior

Namun, dengan kolaborasi yang tepat, upcycling bisa menjadi bagian penting dari solusi limbah fashion.