Secara teori, ini memungkinkan pemasangan banyak sensor di sekitar perbatasan, pabrik, pembangkit listrik, atau kota tanpa harus membangun jaringan radar dari awal.

Radar tetap penting.

Tidak ada yang mengklaim bahwa mikrofon saja bisa menggantikan sistem pertahanan udara modern, terutama terhadap pesawat cepat, rudal, atau ancaman medan perang yang kompleks.

Namun radar memiliki dua masalah di era drone: mahal dan karena memancarkan sinyal, ia bisa mendeteksi keberadaannya sendiri.

Sound Shield bersifat pasif, sensor tidak menyiarkan sinyal saat beroperasi. Mereka hanya mendengarkan.

>>> Roman Safiullin Kalahkan Joao Fonseca di Wimbledon, Lolos ke Babak Keempat

Pavel Konečný, pendiri dan CEO Neuron Soundware, meringkas ide dasarnya: “Suara mesin tidak bisa disembunyikan.” Untuk saat ini, itulah titik lemah yang coba dimanfaatkan Sound Shield.

Bagian paling menarik dari rencana ini mungkin bukan di medan perang.

Neuron Soundware menawarkan Sound Shield sebagai sistem penggunaan ganda yang bisa dipasang di gardu transformator listrik untuk memantau kesehatan peralatan sekaligus ruang udara di sekitarnya.

Banyak perusahaan utilitas sudah membutuhkan sensor untuk mendeteksi kegagalan sebelum menyebabkan pemadaman, kebakaran, atau kerugian besar.

Menurut materi siaran pers perusahaan, unit akustik yang sama bisa mendeteksi pelepasan internal, kebocoran minyak, dan masalah transformator lain sambil mendengarkan drone di atas.

Konečný menggambarkannya dengan sederhana: mikrofon “mendengarkan langit.”

Ada juga sudut pandang lingkungan.

Jaringan sensor satu watt bukanlah solusi iklim, tetapi menggunakan gardu yang sudah ada bisa mengurangi kebutuhan instalasi duplikat dan membantu melindungi infrastruktur energi, termasuk tenaga surya dan kawasan industri.

Suara memang berguna, tetapi rumit.

Angin, hujan, lalu lintas, satwa liar, pekerjaan konstruksi, dan mesin bisa mempersulit deteksi akustik drone, terutama di kota atau dekat kawasan industri sibuk.