Sebuah investigasi dari The Guardian mengungkap adanya kesenjangan sistematis dalam penanganan nyeri persalinan yang dialami perempuan dari latar belakang minoritas.

Temuan ini menunjukkan adanya 'kesenjangan nyeri etnis' yang membuat penderitaan fisik perempuan kulit berwarna sering dianggap remeh dan tidak ditangani oleh tenaga medis.

>>> Kebakaran TPA Jatiwaringin Masih Berlangsung, 30 Persen Area Terkendali

Pengalaman Traumatis Pasien

Julie Hammond, ibu tiga anak dari Kent, menceritakan pengalaman traumatisnya saat menjalani operasi caesar darurat di usia kehamilan 35 minggu.

Meskipun memberi tahu ahli anestesi bahwa ia masih bisa menggerakkan kaki dan merasakan perutnya setelah blok tulang belakang, kekhawatirannya diabaikan.

"Sulit diungkapkan betapa traumatisnya kejadian itu," kata Hammond. "Saya bisa merasakan setiap lapisan kulit, lemak, dan otot dipotong."

Hammond kemudian mengetahui bahwa perawatannya tidak normal saat kehamilan ketiga, ketika seorang konsultan mengonfirmasi hal itu seharusnya tidak terjadi.

Ia menyadari bahwa bias sistemik dapat diinternalisasi bahkan oleh tenaga kesehatan dari minoritas sendiri.

Data dan Penelitian

Sebuah studi tahun 2016 menunjukkan bahwa keyakinan biologis palsu, seperti anggapan bahwa orang kulit hitam memiliki kulit lebih tebal, berkontribusi pada bias rasial dalam persepsi nyeri medis.

Penelitian tahun 2023 juga mengindikasikan bahwa standarisasi protokol penanganan nyeri pascapersalinan gagal menghilangkan kesenjangan etnis dalam pengobatan.

Adewole Adamson, profesor asosiasi di Dell Medical School Universitas Texas, menyatakan bahwa meskipun ada kemajuan kesadaran, kesenjangan masih lambat tertutup.

>>> Wanita Tunagrahita di Jombang Tewas Dianiaya Kakak karena Bumbu Pecel

Gabriella Sarpong, profesional kesehatan masyarakat dari Ilford, berbagi pengalaman serupa setelah induksi persalinan selama 16 jam pada 2023.

Setelah epidural gagal, Sarpong dibiarkan dalam nyeri hebat selama 10 jam karena harus menunggu hingga pagi untuk diperbaiki.