Bolehkah Keramas Setiap Hari? Simak 5 Fakta Penting Ini Sebelum Menentukan Jadwal
Mencuci rambut atau keramas merupakan bagian dari rutinitas kebersihan sehari-hari. Namun, masih banyak yang bingung apakah boleh keramas setiap hari.
Sebenarnya, tidak ada aturan baku yang berlaku untuk semua orang. Frekuensi keramas yang ideal sangat bergantung pada jenis rambut, aktivitas, dan lingkungan Anda.
>>> Batal Damai, Kubu Sarwendah Hormati Langkah Ruben Onsu Gugat Hak Asuh Anak
Faktor Penentu Frekuensi Keramas
Faktor utama yang menentukan seberapa sering Anda harus keramas adalah jumlah minyak (sebum) yang diproduksi kulit kepala.
American Academy of Dermatology (AAD) menyatakan bahwa orang dengan kulit kepala berminyak mungkin perlu keramas sekali sehari. Sementara itu, pemilik rambut kering atau keriting bisa keramas lebih jarang.
Bagi pemilik kulit kepala kering, keramas setiap hari justru akan menghilangkan minyak alami yang melindungi rambut. Akibatnya, rambut menjadi rapuh dan mudah patah.
Tekstur rambut juga memengaruhi seberapa cepat minyak berpindah dari akar ke ujung rambut.
Mengutip Healthline, rambut yang sangat tebal atau keriting umumnya hanya perlu dicuci seminggu sekali atau setiap beberapa hari.
>>> Bos PLN Ungkap Penyebab Pasokan Listrik Terganggu
Sementara untuk rambut lurus dan halus, minyak lebih mudah menyebar ke seluruh batang rambut. Rambut lurus cenderung lebih cepat terlihat lepek dan mungkin butuh keramas setiap hari.
Gaya hidup juga memegang peranan besar. Jika Anda aktif berolahraga atau bekerja di luar ruangan, keringat dan polusi dapat menumpuk di kulit kepala.
Keringat yang dibiarkan terlalu lama dapat menyumbat pori-pori dan memicu pertumbuhan jamur. Dalam kondisi ini, mencuci rambut setelah beraktivitas berat sangat dianjurkan.
Meski boleh bagi sebagian orang, keramas setiap hari dengan sampo yang mengandung bahan kimia keras seperti sulfat dapat memicu masalah baru.
>>> Pernyataan Menteri Desa soal MBG Tuai Kecaman, Netizen: Penghinaan
Saat minyak alami hilang sepenuhnya, kulit kepala terkadang bereaksi berlebihan dengan memproduksi lebih banyak minyak sebagai kompensasi. Efek ini disebut efek rebound.
Update Terbaru
Tanggal Rilis Samsung Galaxy Z Flip8 dan Z Fold8 Bocor, Fix 22 Juli?
Jumat / 03-07-2026, 12:00 WIB
Daihatsu Ayla Tipe M Masih Jadi Mobil Baru Termurah di RI, Rp140,2 Juta
Jumat / 03-07-2026, 12:00 WIB
Lima Kontestan Love Island UK Tersingkir Setelah Casa Amor Recoupling
Jumat / 03-07-2026, 11:51 WIB
Naik Ojol Saat Liburan di Bali, Huening Bahiyyih Bikin Heboh Penggemar
Jumat / 03-07-2026, 11:50 WIB
Aikatsu Stars! Dapatkan Film 10 Tahun pada Musim Semi 2027
Jumat / 03-07-2026, 11:50 WIB
Jaket Langka Wilt Chamberlain Ditemukan di Goodwill, Dilelang hingga Rp3,9 Miliar
Jumat / 03-07-2026, 11:49 WIB
Petkovic Hadapi Timnas Swiss yang Pernah Dilatihnya di Piala Dunia
Jumat / 03-07-2026, 11:49 WIB
Dinas Kesehatan Mississippi Buka Klinik Imunisasi untuk Siswa
Jumat / 03-07-2026, 11:49 WIB
Peringatan Cuaca Ekstrem di Calgary Dicabut Setelah Badai Canada Day
Jumat / 03-07-2026, 11:49 WIB
Luka Modric Makin Dekat Akhiri Karier, Piala Dunia 2026 Berpotensi Jadi Laga Terakhir
Jumat / 03-07-2026, 11:48 WIB
Lumba-lumba Hidung Botol di Adriatik Ikuti Kapal Pukat karena Overfishing
Jumat / 03-07-2026, 11:46 WIB
TNI Kerahkan 3 Heli untuk Evakuasi Jenazah Pilot AS Korban KKB
Jumat / 03-07-2026, 11:46 WIB
Christian Brothers Pertahankan Pelaku Kekerasan Seksual Anak dengan Alasan Injil
Jumat / 03-07-2026, 11:43 WIB
Vertiv Perluas Pabrik di Malaysia, Bidik Lonjakan Permintaan Infrastruktur AI di Asia
Jumat / 03-07-2026, 11:42 WIB






