Mencuci rambut atau keramas merupakan bagian dari rutinitas kebersihan sehari-hari. Namun, masih banyak yang bingung apakah boleh keramas setiap hari.

Sebenarnya, tidak ada aturan baku yang berlaku untuk semua orang. Frekuensi keramas yang ideal sangat bergantung pada jenis rambut, aktivitas, dan lingkungan Anda.

>>> Batal Damai, Kubu Sarwendah Hormati Langkah Ruben Onsu Gugat Hak Asuh Anak

Faktor Penentu Frekuensi Keramas

Faktor utama yang menentukan seberapa sering Anda harus keramas adalah jumlah minyak (sebum) yang diproduksi kulit kepala.

American Academy of Dermatology (AAD) menyatakan bahwa orang dengan kulit kepala berminyak mungkin perlu keramas sekali sehari. Sementara itu, pemilik rambut kering atau keriting bisa keramas lebih jarang.

Bagi pemilik kulit kepala kering, keramas setiap hari justru akan menghilangkan minyak alami yang melindungi rambut. Akibatnya, rambut menjadi rapuh dan mudah patah.

Tekstur rambut juga memengaruhi seberapa cepat minyak berpindah dari akar ke ujung rambut.

Mengutip Healthline, rambut yang sangat tebal atau keriting umumnya hanya perlu dicuci seminggu sekali atau setiap beberapa hari.

>>> Bos PLN Ungkap Penyebab Pasokan Listrik Terganggu

Sementara untuk rambut lurus dan halus, minyak lebih mudah menyebar ke seluruh batang rambut. Rambut lurus cenderung lebih cepat terlihat lepek dan mungkin butuh keramas setiap hari.

Gaya hidup juga memegang peranan besar. Jika Anda aktif berolahraga atau bekerja di luar ruangan, keringat dan polusi dapat menumpuk di kulit kepala.

Keringat yang dibiarkan terlalu lama dapat menyumbat pori-pori dan memicu pertumbuhan jamur. Dalam kondisi ini, mencuci rambut setelah beraktivitas berat sangat dianjurkan.

Meski boleh bagi sebagian orang, keramas setiap hari dengan sampo yang mengandung bahan kimia keras seperti sulfat dapat memicu masalah baru.

>>> Pernyataan Menteri Desa soal MBG Tuai Kecaman, Netizen: Penghinaan

Saat minyak alami hilang sepenuhnya, kulit kepala terkadang bereaksi berlebihan dengan memproduksi lebih banyak minyak sebagai kompensasi. Efek ini disebut efek rebound.