Anak tersebut dirawat di unit perawatan intensif setelah staf rumah sakit mulai mencurigai rabies karena gejalanya yang memburuk.

Pemindaian MRI kemudian menunjukkan lesi di batang otaknya, dan tes laboratorium mengonfirmasi diagnosis.

Tim klinis mendiskusikan pemberian antibodi rabies langsung ke otak pasien, tetapi keluarga dan dokter menolak opsi tersebut karena sifatnya yang invasif dan kurangnya efektivitas yang terbukti.

Anak itu meninggal 17 hari setelah dirawat di rumah sakit.

Laporan medis menyoroti bahwa profilaksis pasca pajanan hampir selalu efektif pada jutaan kasus global jika diberikan segera setelah kontak.

>>> Polisi Geledah Markas Sepak Bola Jerman Terkait Dugaan Korupsi Euro 2024

Penulis laporan jurnal medis menulis, "Pengenalan dini terhadap paparan dan PEP tepat waktu tetap menjadi satu-satunya cara efektif untuk mencegah rabies."