Sejumlah pengembang Rockstar yang memperjuangkan pengakuan serikat pekerja menuduh perusahaan memiliki budaya lembur (crunch) yang sudah mengakar dan bahkan tertulis dalam kontrak kerja.

Dalam wawancara dengan Game Developer, perwakilan Rockstar Game Workers Union mengungkapkan bahwa kontrak standar di studio tersebut mencakup klausul opt-out dari Working Time Regulations, aturan ketenagakerjaan di Inggris yang membatasi jam kerja maksimal 48 jam per minggu.

>>> Clair Obscur: Expedition 33 Terinspirasi Elden Ring dan Dark Souls dalam Penyampaian Cerita

Dengan menandatangani kontrak, karyawan secara otomatis menyetujui kemungkinan lembur berat. Serikat pekerja kemudian menjalankan kampanye untuk menginformasikan bahwa karyawan bisa memilih kembali ke regulasi standar kapan saja.

Upaya itu mendorong manajemen Rockstar menyederhanakan proses opt-in dan menghapus kewajiban pertemuan dengan HR.

Namun, para pengembang menilai definisi crunch masih kabur, dan kompensasi lembur dianggap menghilangkan status 'crunch'.

Ketimpangan Upah dan Bonus Tidak Jelas

Menjelang perilisan GTA 6 yang sempat tertunda, praktik lembur di Rockstar dilaporkan tidak merata. Beberapa tim bisa menghindarinya, sementara divisi lain seolah tidak pernah lepas dari lembur.

>>> Serangan Rudal dan Drone Rusia Tewaskan 17 Orang di Kyiv

Para pengembang juga menuding Rockstar membiarkan budaya ketimpangan upah, dengan kesenjangan upah gender yang melebar.

Sebagian gaji karyawan kerap ditahan dalam bentuk bonus yang tidak konsisten, hingga 20% dari pendapatan yang diharapkan bisa hilang tanpa alasan jelas.

Pekan ini, Rockstar mengonfirmasi akan 'mengatur pertemuan' dengan perwakilan serikat pekerja.

>>> Starz Akuisisi Spinoff S.W.A.T. Exiles, Tayang September 2026

Serikat pekerja menyebut GTA 6 telah menghasilkan sekitar $3 miliar dari pre-order, sehingga perusahaan 'mampu memenuhi tuntutan' terkait lembur yang lebih adil dan transparansi upah.