Membujuk anak makan sayur sering menjadi tantangan besar bagi orang tua. Banyak forum parenting dipenuhi pertanyaan cemas, seperti apakah normal jika anak hanya mau makanan berwarna krem.

Menurut laporan BBC, keengganan anak terhadap sayur memiliki alasan biologis. Manusia sudah memiliki preferensi rasa manis sejak dini, bahkan ASI mengandung gula alami yang terasa manis.

>>> Lumio Luncurkan Project Neo, Fitur Pencarian Konten AI via WhatsApp dan Instagram

Akibatnya, saat beralih ke makanan padat, memperkenalkan brokoli atau bayam yang hambar atau pahit menjadi perjuangan. Padahal, anak sangat membutuhkan diet bervariasi kaya buah dan sayur.

Pola makan buruk berdampak negatif pada kognisi, konsentrasi, perilaku, hingga prestasi akademik. Lonjakan obesitas anak juga dikaitkan dengan risiko kesehatan jangka panjang dan penurunan hasil pendidikan.

Kabar baiknya, peneliti menemukan solusi inovatif berbasis sains untuk membantu orang tua. Berikut enam hal sederhana yang bisa dicoba.

1. Kenalkan Sayur Sejak Dini

Mengenalkan berbagai sayuran sesering mungkin di usia dini berdampak jangka panjang signifikan. Marion Hetherington, profesor biopsikologi di Universitas Leeds, mengatakan masa prasekolah adalah jendela waktu paling krusial.

"Jika Anda tidak mulai meningkatkan paparan sayuran pada anak usia lima tahun, itu hampir terlambat," ungkap Hetherington.

Studi menunjukkan anak butuh 5 hingga 15 kali paparan berulang sebelum menerima makanan baru.

Anak di bawah satu tahun mungkin butuh lebih sedikit paparan dibanding anak prasekolah (3-4 tahun) yang biasanya memiliki neofobia makanan lebih tinggi.

2. Tawarkan Sayuran Terlebih Dahulu

Memberi tahu anak bahwa sayuran itu sehat justru sering menjadi bumerang karena mereka lebih tertarik pada kata 'lezat'.