Panda parenting belakangan sering dibahas dalam diskusi pola asuh modern. Gaya ini menawarkan pendekatan santai namun tetap terarah, berbeda dengan pengasuhan yang mengutamakan kontrol ketat.

Konsep ini diperkenalkan oleh Esther Wojcicki dalam bukunya How to Raise Successful People. Menurutnya, anak tidak perlu diawasi berlebihan untuk sukses, melainkan diberi kepercayaan dan kesempatan mengambil keputusan.

>>> Komut Pertamina Tinjau Proyek Strategis dan Infrastruktur Energi di Tuban

Meski terdengar longgar, panda parenting bukan berarti tanpa aturan. Pola asuh ini menekankan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.

Apa Itu Panda Parenting?

Mengutip Parents, panda parenting adalah gaya pengasuhan yang memberi anak kesempatan belajar dari pengalaman sendiri, termasuk saat menghadapi kegagalan.

Orang tua berperan sebagai pendamping, bukan pengendali. Mereka tetap memberikan dukungan dan arahan saat dibutuhkan, tetapi tidak mengambil alih setiap tantangan.

Esther Wojcicki merangkum prinsip panda parenting dalam akronim TRICK: Trust (kepercayaan), Respect (rasa hormat), Independence (kemandirian), Collaboration (kerja sama), dan Kindness (kebaikan).

Ciri-Ciri Panda Parenting

Panda parenting memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari gaya pengasuhan lain.

Pertama, memberikan arahan tanpa terlalu mengontrol. Orang tua memberi panduan seperlunya, lalu membiarkan anak belajar mengambil keputusan sendiri.

Kedua, membangun hubungan yang hangat. Hubungan emosional yang kuat membuat anak merasa aman mengungkapkan perasaan dan pendapat.

Ketiga, mendorong kemandirian. Anak diberi kesempatan mencoba berbagai hal sendiri, dan orang tua membantu menemukan minat serta potensinya.

Keempat, mengajarkan kemampuan memecahkan masalah.

>>> AS vs Belgia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Jadwal dan Preview

Orang tua tidak langsung memberi solusi, melainkan mengajak anak berpikir dengan pertanyaan seperti 'Menurutmu apa yang bisa dilakukan?'