Gelombang panas ekstrem dan memecahkan rekor di Eropa telah mendorong suhu mendekati 112 derajat Fahrenheit di beberapa wilayah sejak 21 Juni 2026.

Lebih dari 1.300 kematian akibat panas berlebih tercatat, memicu perdebatan transatlantik yang sengit mengenai rendahnya adopsi pendingin udara (AC) di rumah-rumah Eropa.

>>> Bay Area Gelar Laga Knockout Bersejarah Timnas AS di Piala Dunia

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan otoritas setempat menunjukkan cuaca ekstrem ini juga menyebabkan puluhan kasus tenggelam, paparan panas fatal pada anak-anak yang ditinggal di kendaraan, dan kamar mayat yang kelebihan kapasitas di Prancis.

Sekitar 90% rumah tangga di Amerika Serikat menggunakan AC, sementara hanya sekitar 20% rumah di Eropa yang memiliki unit pendingin.

Kesenjangan infrastruktur yang mencolok ini menjadi sorotan utama dalam perdebatan.

Faktor Sejarah dan Regulasi

Sejarah meteorologi, biaya energi yang tinggi, dan regulasi arsitektur yang ketat untuk bangunan bersejarah sangat membatasi pemasangan AC di Eropa.

Italia menjadi pengecualian dengan 56% rumahnya dilengkapi AC pada 2024.

Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan unit AC di Uni Eropa akan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 275 juta pada 2050, meskipun ada penolakan kebijakan terkait dampak lingkungan dan inflasi suhu lokal.

Komentar dari Tokoh Amerika dan Eropa

Rendahnya penggunaan AC menuai kritik tajam dari komentator Amerika di media sosial, memicu tanggapan beragam dari pejabat publik dan pakar perkotaan Eropa yang menganggap AC sebagai solusi tidak berkelanjutan.

Penulis ekonomi Noah Smith menulis di X, "Pasang saja AC dan selamatkan hidup nenekmu, teman-teman Eropa!"

Ia kemudian mempertanyakan mengapa kematian akibat panas di Eropa tetap tinggi jika wilayah itu secara tradisional tidak membutuhkan AC.