Gelar 'Baginda Pemuka Bangsa' yang diberikan kepada mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Lampung memicu berbagai spekulasi di media sosial.

Relawan Pro Jokowi (Projo) pun angkat bicara. Mereka meminta publik tidak menyeret prosesi adat ke dalam tafsir politik yang berlebihan.

>>> Trump Klaim Qatar Keluarkan Banyak Uang Demi Berikan 'Hadiah Istimewa' untuk Amerika Serikat

Sekretaris Jenderal Projo, Freddy Alex Damanik, menegaskan bahwa Jokowi hadir sebagai tamu undangan dan mengikuti rangkaian adat yang telah disiapkan masyarakat Lampung.

Menurutnya, anggapan bahwa gelar adat tersebut memiliki pesan politik tersembunyi merupakan pembacaan yang terlalu jauh.

"Sudah terlalu jauh ya kalau simbol-simbol adat dibaca dengan kacamata kompetisi politik, kompetisi politik sempit bahkan," katanya, Kamis (2/7).

"Jangan semua peristiwa dipaksa menjadi teori konspirasi, yang menurut saya berlebihan lah," tambahnya.

Makna Ritual di Balik Gelar

Sebelumnya, Jokowi menerima gelar adat 'Baginda Pemuka Bangsa' di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026).

Salah satu momen yang paling banyak dibahas adalah ritual ketika mantan presiden itu menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau.

Tokoh Adat Lampung Pepadun, Suttan Seghayo Dipuncak Nur Mawardi Harirama, menjelaskan bahwa ritual tersebut memiliki makna budaya yang diwariskan turun-temurun.

>>> Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 3 – 5 Juli 2026

"Kerbau adalah hewan peliharaan masyarakat Lampung sejak lama yang menjadi aset ekonomi maupun untuk kegiatan pesta adat (Begawi)," ujar Mawardi.

Menurutnya, pemotongan kerbau dalam adat menjadi simbol pencapaian status sosial yang tinggi. Sementara menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau memiliki makna lahir dan batin.

"Menempatkan jari kaki di atas kerbau itu bermakna, secara lahir merupakan lambang status sosial yang tinggi," jelasnya.

Di sisi lain, ritual tersebut juga dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari sifat-sifat buruk.

"Jadi tujuannya untuk menghilangkan sifat-sifat binatang dalam dirinya, seperti sombong, iri dengki, tamak dan lain-lain, agar karya-karya menjadi baik dan berhasil," ujarnya.

Gelar 'Baginda Pemuka Bangsa' sendiri diberikan berdasarkan penilaian budaya atas dedikasi Jokowi. Ia juga sebagai pengejawantahan falsafah hidup masyarakat setempat yang menjunjung penghormatan kepada tamu dan persaudaraan.

>>> AC di AS Disebut Memperparah Gelombang Panas di Eropa

Dengan penjelasan tersebut, tokoh adat dan relawan menegaskan bahwa prosesi yang dijalani Jokowi merupakan bagian dari tradisi budaya setempat, bukan simbol konspirasi politik sebagaimana ramai diperdebatkan di media sosial.