Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa memicu perdebatan baru tentang tanggung jawab perubahan iklim.

Wali Kota Paris Emmanuel Grégoire baru-baru ini menyebut AC individu sebagai "momok" yang justru memperparah pemanasan kota.

>>> Subnautica 2: Krafton Bayar Bonus Lebih Besar ke Seluruh Tim, CEO Tetap Hengkang

Pernyataan itu menuai kritik dari sejumlah komentator Amerika.

Namun Wakil Wali Kota Paris Audrey Pulvar membalas dengan tajam, menyoroti kontribusi besar Amerika Serikat terhadap emisi global.

Menurut perkiraan, AC saat ini menyumbang sekitar 3,2 persen emisi iklim global, termasuk dari penggunaan listrik dan kebocoran refrigeran.

AC juga mengonsumsi sekitar 7 persen listrik dunia.

Amerika Serikat memainkan peran utama dalam emisi terkait AC.

>>> Xbox Dikabarkan Uji Fitur Digitalisasi Koleksi Game Fisik

Antara Mei hingga Agustus, AS rata-rata mengeluarkan sekitar 150 juta ton karbon dioksida per bulan dari AC, setara dengan emisi tahunan Belanda.

Meski demikian, menyalahkan AC Amerika sepenuhnya tidak tepat. Prancis sendiri telah mengeluarkan total sekitar 40 miliar ton CO2 sepanjang sejarahnya.

Negara-negara paling rentan terhadap panas ekstrem, seperti Afghanistan, Papua Nugini, Guatemala, Honduras, dan Nikaragua, tidak memiliki akses ke AC maupun inisiatif ramah lingkungan yang memadai.

Sebuah studi menemukan bahwa jika negara-negara berpendapatan rendah memiliki akses AC yang sama dengan negara kaya, emisi karbon bisa melonjak dan menambah pemanasan global hingga 0,05 derajat Celcius pada 2050.

>>> Drama Spesial Live-Action Tezuka Osamu no Sensō Rilis Trailer, Tambah Pemeran, Tayang 12 Agustus

Pada akhirnya, AC menjadi cermin ketimpangan global: negara kaya bisa mendinginkan diri dari krisis iklim yang mereka perburuk, sementara negara miskin tidak punya pilihan.