>>> Anggaran Transformasi Teknologi BSI Tembus Rp7 Triliun, Bisnis Digital Siap Melaju

Karena layar hanya menampilkan beberapa baris, ia memoles setiap baris dengan cermat sebelum melanjutkan.

"Cerita ini bermula dari masa kecil saya di pedesaan Trinidad," kata Nazir tentang inspirasinya. "Setiap hari, saya berjalan ke sekolah melewati kedai rum tempat para pekerja tebu berkumpul."

Reaksi publik awal terhadap pengumuman itu sebagian besar masih kritis. Beberapa pengguna media sosial mengaku telah memproses teks melalui berbagai program deteksi AI selama seleksi regional.

Profesor Wharton Ethan Mollick berkomentar, "Pangram flags at 100% but also, come on, if you know you know."

Namun, keandalan perangkat lunak deteksi AI telah dipertanyakan.

Farook membela keputusan organisasi untuk mengandalkan penilaian manusia daripada alat penyaringan otomatis selama proses verifikasi.

"Alih-alih menyerahkan penilaian kami pada perangkat lunak deteksi AI, kami meminta pemenang menunjukkan draf kerja, garis besar, bukti perjalanan artistik," ujarnya.

Ia menambahkan, "Perangkat lunak itu tidak sempurna: memberikan putusan yang tidak konsisten dan mengikis kepercayaan yang menjadi dasar sebuah penghargaan."

"Ketika suara default mesin adalah suara metropolitan, penulis yang tidak sesuai cetakan yang diharapkan adalah yang pertama dicurigai," kata Farook.

>>> 5 Perubahan Sederhana yang Memperbaiki Masalah Lag Android Auto

"Seorang penulis muda di Kingston atau Kolkata, di Kuala Lumpur atau Kigali, kini harus membuktikan tidak hanya bakatnya tetapi juga kemanusiaannya."